Yosh, namaku Erika
Ainatul Ulumia, bisa dipanggil Erika. Aku kelas 9 di SMP Negeri 1 Magelang.
Salam kenal teman! Di blog ini aku akan berbagi Fanfic Anime. Berhubung saya
Narutoholic, ya mungkin Fanfic Naruto banyak. xD Oh iya, saya juga
Hinata-centric. Suka nge-pair in Hinata sama yang lain, misalnya Naruto,
Sasuke, Gaara, dll. Tapi masih belom bisa mbuat Fanfic sendiri. Jadi ini masih
Fanfic orang lain, cuma sekedar buat tulisan. hehe gomen ne! xD
Langsung aja, yang
pertama Fanfic Sasuke><Hinata. Happy Reading!
P E G A S U S Author: Anonymous
Hyuuga | 1
Disclaimer:
Masashi Kishimoto, I don't claim Naruto ^^
Warning:
Typo, OOC, AU,
Stupid Fantasy, Another utility of Gelel Stone, Dark Naruto
Pairing:
Sasuke U & Hinata H
.
.
.
So this is it!
Anonymous Hyuuga presents
.
.
.
"PEGASUS"
Part One
Aku
menepuk-nepukkan kedua tanganku usai memasukkan adonan roti yang dibuat Ayah ke
dalam sebuah oven besar di belakang toko roti kami. Kuatur api kompor menjadi
sedang agar adonan itu berakhir menjadi roti yang sempurna. Kulepaskan apron
merah marun yang kugunakan, dan kugantung di tempatnya.
"Otousan,
sudah kupanggang," ujarku pada Ayah saat aku melintasi bagian depan toko
roti, di mana Ayah sedang melayani pelanggan dengan apron putih dan topi koki
besar berdiri di kepalanya. Di sisi lain ruangan aku melihat Ibu tengah
memasukkan beberapa loyang roti yang masih hangat ke dalam rak display. Di
dekatnya, kulihat kakak laki-lakiku juga sedang sibuk. Ia membersihkan dan
menata ruangan itu agar terlihat lebih cantik.
Begitulah rutinitas
keluargaku jika sedang bekerja di toko roti kami, Toko Roti Keluarga Uchiha.
Kami membagi tugas sedemikian rupa. Ayahku, Uchiha Fugaku, bertugas sebagai
pengatur jalannya kelangsungan toko roti kami dan juga bertugas melayani para
tamu di kasir. Ibuku, Uchiha Mikoto, bertugas mengangkat roti yang sudah matang
dan memasukkannya ke rak-rak display. Kakakku, Uchiha Itachi, bertugas
membersihkan toko atau dapur, dan sesekali menggantikan Ayah jika Ayah sedang
membantuku membuat roti. Sedangkan aku, Uchiha Sasuke, bertugas memasukkan
adonan roti ke dalam oven besar di belakang, dan sesekali juga aku membantu
membuat roti. Sst. Tolong jaga rahasia, Ayah bilang padaku ia akan mewariskan
toko roti ini padaku, sehingga ia hanya menurunkan bakat membuat rotinya
padaku. Jujur, sebagai remaja labil aku merasa senang.
"Ya,
Sasuke," sahut Ayah singkat tanpa sedikit pun mengalihkan perhatiannya
dari para pelanggan.
"Okaasan, aku
pergi dulu," kataku berpamitan pada Ibu. Ibu segera menoleh ke arahku dan
tersenyum sembari mengangguk.
"Mau ke
mana?" tanya Itachi yang masih sibuk berkutat dengan vas bunga yang sedari
tadi tidak bersih-bersih. Aku menghela napas melihatnya sibuk membersihkan itu,
karena sudah puluhan kali aku mengatakan padanya bahwa kotoran di vas itu tidak
dapat dibersihkan. Tetapi yah, kalau tidak keras kepala namanya bukan Itachi.
"Membeli
bahan," jawabku acuh tak acuh sembari melepaskan sandal rumahanku dan
menggantinya dengan sepatu bot sebetis, karena ini adalah musim dingin. Aku
menarik ritsleting mantelku hingga ke dagu, melilitkan syal berwarna senada
dengan sepatu botku yang coklat.
"Oh,"
sahut Itachi singkat. Matanya tampak juling karena menatap lekat-lekat kotoran
yang masih menempel di vas bunga itu. Lagi-lagi aku menghela napas dan menggeleng-gelengkan
kepala melihat Itachi yang masih sangat penasaran dengan kotoran itu.
Setelahnya, aku
membuka pintu toko yang dipasang bel di atasnya sehingga ketika kubuka daun
pintunya, terdengar bunyi gemerincing. Kemudian aku menutup kembali pintu dan
berjalan menyusuri jalanan bersalju tebal dengan udara sekitar minus lima
derajat selsius.
Sesekali sepatu
botku terbenam di tumpukan salju yang sangat tebal. Aku mendengus kesal. Tak
adakah satu orang pun yang berniat mengeruk salju-salju ini? Sungguhpun aku
mencintai musim salju, aku tidak pernah suka jika kakiku tenggelam di dalam
benda dingin lembek berwarna putih itu.
Aku menggosok-gosok
kedua lenganku dan meniupinya karena terasa dingin. Kesalahanku tidak memakai
sarung tangan. Yah, tidak sepenuhnya salahku memang, karena aku tidak memiliki
sarung tangan. Lucu ya? Keluargaku cukup kaya, tetapi aku seakan tidak sanggup
membeli sarung tangan. Orang pun tak akan percaya jika aku mengatakan aku
berasal dari keluarga yang cukup kaya, jika mereka melihat sepatuku yang sudah
ditambal ratusan kali. Aku tidak peduli, karena hal tentang kesederhanaan sudah
ditanamkan di dalam pemikiranku sejak aku masih bayi.
Setelah menempuh
perjalanan sekitar lima belas menit, aku berhasil sampai di toko kecil penjual
bahan-bahan untuk membuat roti. Aku membuka pintu kaca itu dan segera disambut
harum bahan-bahan mentah itu. Tak lupa, kuhentak-hentakkan kakiku, untuk
menyingkirkan salju, sebelum memasuki toko itu.
"Ohayou,
Sasuke-chan!" panggil sang penjaga toko bahan yang merupakan perempuan tua
dengan tubuh hanya sebatas pundakku, dan kulit yang sudah keriput termakan
usia.
"Ohayou,
Chiyo-baasan," sahutku sembari tersenyum tipis dan mengangguk samar. Aku
segera melihat ke sisi utara ruangan di mana ada tumpukan keranjang rotan.
Dengan segera, aku mengambil salah satu gagang keranjang itu, namun tak hanya
aku yang melakukannya, melainkan aku dan sang pemilik tangan seputih susu
dengan jari-jari lentik.
Perlahan mataku
menyusuri tangan kecilnya, hingga mencapai pundak, berlanjut ke dagu, dan
sampai di mata ungu pucat gadis itu. Wajah bulatnya terbingkai poni rata
berwarna indigo. Poni itu terlihat berantakan dan sedikit tersibak, hingga
dapat kulihat bercak merah bundar di tengah keningnya yang juga seputih susu.
Aku meneguk ludah ketika kulihat rambutnya yang lurus panjang, dan juga
wajahnya yang di atas rata-rata kecantikan. Hidungnya kecil dan mancung,
sedangkan bibirnya tipis dan merah. Rona merah di pipi akibat cuaca dingin pun
turut menyemarakkan penampilan cantik sosok di depanku ini.
"Go-gomen,"
bisiknya sembar menarik tangannya, dan meletakkannya di depan dada.
"Da-daijoubu,"
ujarku. Aku merutuk dalam hati, mengapa aku bisa sampai ketularan gagapnya?
Dengan cepat kuambil keranjang rotan itu dan kuserahkan pada gadis cantik di
depanku. "Ambil."
Ia menerimanya
dengan malu-malu. Ia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, namun kuputuskan
untuk mengartikannya sebagai ucapan terimakasih, sehingga aku mengangguk dan
segera mengambil keranjang rotan di bawahnya.
Sesungguhnya aku
enggan beranjak dari tempatku berdiri dan mengambil beberapa bahan roti yang
diminta Ayah. Karena aku sangat ingin berada di sini dan memandangi gadis
bersurai indigo itu dari jarak dekat. Namun segera kutepis pemikiran itu dan
bergegas menyambar bahan-bahan yang sudah disebutkan Ayah pagi tadi, lalu
memasukkannya ke keranjang rotan yang kupegang. Aku membawa keranjang berat itu
ke kasir tempat Nenek Chiyo duduk di kursi goyang. Ia menyebutkan harga barang,
dan segera kurogoh saku celanaku untuk mengeluarkan sejumlah uang. Setelah
menyerahkan uang itu dan berterimakasih, aku bergegas keluar dari toko bahan roti
dengan melupakan kantong belanjaanku.
"Su-sumimasen,"
bisik sebuah suara di balik pundakku.
Aku menoleh ke
belakang, dan kulihat gadis cantik yang tadi kutemui tengah menatap ke lantai
sembari menjulurkan tangannya yang memegang kantong belanjaanku.
"I-ini
tertinggal," katanya lagi, dan kini rona merah di pipinya yang semakin
tebal, turut menemani kata-katanya.
Sejenak aku merasa
tertawan oleh sosok gadis itu. Aku belum pernah melihatnya sebelum ini di kota
tempat tinggalku. Ia terasa asing dan memabukkan. Baru kali ini jiwa remajaku
bisa-bisanya terjerat oleh pesona gadis sederhana yang pendiam dan terkesan
malu-malu. Padahal di sekolah aku biasa dikelilingi sosok-sosok cantik borjuis
yang sibuk mengejar dan meneriakkan namaku di sepanjang koridor. Namun tak satu
pun dari mereka yang kupandang. Sedangkan gadis di depanku ini sudah berhasil
merantai jiwaku.
"Aa,"
sahutku akhirnya setelah berhasil kembali ke alam nyata, "Arigatou."
Gadis itu
mengangguk dan segera berbalik badan untuk kembali ke dalam toko. Langkahnya
terlihat kikuk dan tergesa-gesa. Hal itu membuat sudut kiri bibirku berkedut
menahan senyum.
-ooo-
"Lama,"
ujar Itachi ketika aku baru menghentak-hentakkan kakiku di depan pintu toko
roti kami. Ia kembali memasuki toko, dan aku mengikuti di belakangnya. Tebak
apa yang dilakukan Itachi. Ya, Demi Tanduk Pegasus, ia masih berkutat dengan
vas bunga malang yang terus menerus digosoknya dengan kain lusuh itu.
Aku sudah tidak
tahan melihatnya. Setelah menanggalkan sepatu bot, mantel, dan syal, dengan gusar
aku merebut kain di tangan Itachi dan berkata, "Bersihkan bagian lain.
Sudah kubilang itu noda permanen, Baka Aniki!"
"Iie,"
tukasnya sembari kembali merebut kain itu dari tanganku dan kembali berkutat
dengan vas bunga di depannya.
"Tch.
Usuratonkachi," gerutuku sambil berjalan ke dapur untuk meletakkan
bahan-bahan roti itu di dalam buffet yang digantung di dekat jendela kaca. Aku
memasukkan dan menatanya dengan sabar sebelum menutup pintu buffet, dan
menyimpan kantong plastik yang tadi kugunakan untuk membawa semuanya.
Aku menoleh menatap
jendela. Pandanganku kulemparkan jauh-jauh, dan yang kulihat sangat mendominasi
adalah warna putih. Aku menghela napas, dan seketika ada uap yang keluar dari
mulutku. Setengah tersenyum aku semakin giat memandangi pemandangan di balik
jendela kaca.
Lama tak kulihat
sesuatu yang menarik, aku hendak meninggalkan kegiatanku, hingga sesuatu
menarik perhatianku. Sosok kecil berambut panjang dengan gaya jalan kikuk yang
menggemaskan. Rambut panjang kebiruannya tertutup topi wol berwarna merah muda
yang diikat di bawah dagunya. Ia mengenakan rok mantel senada dengan syal putih
dan juga sepatu bot coklat.
Ia tampak
celingukan, lalu kembali berjalan lagi dengan tergesa-gesa. Sekilas dapat
kulihat kulitnya yang seputih susu, dan juga rona merah pada wajahnya yang
bulat. Ia membawa sebuket bunga berwarna putih di dalam pelukannya, dan
sekantong plastik yang ia genggam dengan tangan kanannya
Entah apa yang
menguasai pemikiranku, aku segera berlari ke arah pintu belakang yang terkunci.
Aku menggerutu sembari membuka tiga gerendel pintu yang sangat besar. Setelah
membukanya, tanpa mengganti pakaian, aku segera berlari tersaruk-saruk ke luar,
untuk mencari sosok yang baru saja kulihat. Kepalaku menoleh ke sana ke mari,
namun tak juga kujumpai sosok itu. Demi Toko Roti Keluarga Uchiha, gadis tadi
berjalan mengarah ke sebuah dataran salju yang kosong tanpa bangunan atau pun
pohon. Dan ia menghilang? Aku merasakan jantungku berdegup keras saat
menyadarinya. Gadis Hantu.
-ooo-
Malam sudah datang
dengan bintang-bintang redup yang menggantung di langit musim dingin yang
hampa. Sesekali bintang itu tak tampak, karena butiran-butiran kecil salju yang
mulai menjatuhi bumi dengan gerakannya yang sangat halus.
Udara sangat dingin
dan selimut tebal atau ranjang yang empuk sudah menggoda semua orang untuk
berlayar ke alam mimpi. Namun aku masih saja duduk di ambang jendela yang
sedikit menjorok keluar gedung. Ambang jendela itu cukup besar untuk tempatku
duduk bersila. Daun jendela yang melengkung cembung di depanku, menjadi tameng
pertahananku dari udara dingin. Aku meletakkan kedua tanganku di atas lutut,
dan kembali melayangkan pandang sejauh mungkin.
Bayang-bayang akan
gadis misterius tadi masih saja membuat hatiku luluh lantak. Ia berhasil
mencairkan kebekuan hatiku, dan menjadikannya hangat. Sungguh pun kami baru
berjumpa dan hanya sekedar berucap satu-dua kata, pesonanya sudah terlanjur
membuatku jatuh dan tenggelam ke sebuah lautan gelap yang memberikan sensasi
menyenangkan pada hatiku.
Aku tersenyum
ketika kembali bayang-bayang wajah bulatnya, yang dihiasi rona merah dan
ekspresi polos, membayangi hatiku. Dengan cepat aku menyadari apa yang sedang
kupikirkan, lalu menggeleng-geleng, dan terus merapalkan kata 'tidak' dalam
hatiku berulang kali.
Bosan. Aku turun
dari ambang jendela dengan sekali lompatan, hingga tubuhku kini jatuh ke
ranjangku yang tidak terlalu empuk tetapi nyaman untuk digunakan. Sesungguhnya
mataku masih enggan menutup, namun tubuhku sudah sangat lelah, sehingga aku
memutuskan untuk tidur. Kutarik selimut hingga sebatas leher, memadamkan api
lilin, dan memejamkan mataku.
-ooo-
"Bangun,
Pemalas!" tegur Itachi tiba-tiba saat aku masih bergelung di bawah
hangatnya selimut tebalku yang juga sudah ditambal puluhan kali.
Aku mengerang
enggan sambil merapatkan selimut itu, dan menyamankan posisi tidurku.
Tolonglah, ini masih pukul tiga pagi. Aku masih dalam masa pertumbuhan sehingga
butuh banyak istirahat! Lagi pula ini 'kan hari Minggu!
Itachi tidak
tinggal diam. Ia segera menarik selimutku, hingga spontan aku melihatnya dengan
gusar. Tidak hanya sampai situ, ia meraih penebah kasur rotan yang kugantung
tidak jauh dari ranjang, lalu mengancamku dengan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Bangun, atau
mendarat di bokongmu?" tanya Itachi dengan nada mengerikan.
Aku tidak bergeming
dan malahan kembali menggelung diriku sambil bergumam, "Ancaman
basi."
Sialnya, Itachi
tidak main-main. Kakak laki-laki keras kepalaku itu dengan cepat memukulkan
benda itu ke bokongku. Aku terlonjak dan segera terduduk sembari menatap gusar
ke arahnya, sementara ia terkekeh sambil menggantungnya kembali di tempat
semula.
"Tch.
Usuratonkachi," gerutuku sembari berjalan ke kamar mandi untuk mencuci
muka.
Aku menutup pintu
kamar mandi, dan segera melihat wadah besar, di lantai, yang terbuat dari kayu
sudah terisi penuh dengan air hangat. Aku menciduk beberapa kali dan
menyiramkannya ke wajahku. Usai aku membasuh wajah, menyikat gigi, dan menata
rambutku, aku menatap ke cermin seakan menantang pantulan wajahku untuk beradu
ketampanan.
"Kau
tampan," bisikku sembari menelaah tiap inci wajahku yang terpantul di
cermin. Ya, aku sangat bangga akan ketampananku ini. Aku merasa aku dua kali
lipat lebih tampan dari Itachi, dan berpuluh-puluh kali lipat ganda lebih
tampan dari Ayah dan Ibu. Ibu? Tentu saja. Ia tidak tampan, tetapi sangat
cantik. Umurnya yang sudah mencapai empat puluh enam tahun tidak mengurangi
kecantikannya walau sepersen pun. Aku merasa yakin kalau ketampananku
diturunkan dari Ibu dan bukan Ayah.
Aku berjalan
kembali ke kamar untuk mengganti pakaianku dengan pakaian rumahan. Kulemparkan
saja piyama hangat yang kugunakan ini ke sembarang tempat. Aku mengganti semua
termasuk pakaian dalamku. Dengan keadaan telanjang bulat, aku berjalan ke
lemari dan memilih pakaian apa yang akan kukenakan hari ini. Jujur ini tidak
penting, karena semua pakaianku bermodel sama. Mulai dari kaos lengan pendek
yang jumlahnya belasan, dengan warna yang berbeda, tetapi model yang seratus
persen sama; hingga kaos kaki sebetis dengan model yang juga seratus persen
sama.
Karena itu semua
disebabkan aku yang tidak terlalu peduli dengan model pakaian. Tidak seperti
kakak laki-lakiku yang sangat memperhatikan penampilannya. Menurutku, percuma
pakaiannya selalu ganti dan penampilannya selalu berbeda jika wajahnya tidak
setampan aku. Cukup dengan ketampanan dan pakaian sederhana, aku bisa
menggandeng sepuluh wanita sekaligus dalam sehari.
-ooo-
"Ohayou,
Otousan," sapaku pada Ayah yang sedang memukul-mukul adonan roti di dapur.
"Hn,"
sahut Ayah sambil masih berkutat dengan adonan roti. Ia terus memukul dan
memilin adonan itu sedemikian rupa agar lembut. "Bantu aku."
Aku segera menuruni
tangga dan berjalan ke sebelah Ayah yang mengenakan sarung tangan plastik
dengan tepung bertebaran di wajah dan tangannya. Degan cepat aku juga
menyarungkan kedua tanganku dengan sarung tangan, lalu mulai mengambil adonan
roti dari wadah lain dan memilin-milinnya juga. Ia memberikanku sedikit
pengarahan tentang 'jangan terlalu keras' atau 'tingkatkan kecepatanmu'. Aku
yang masih belajar pun mau tak mau menuruti Ayah yang sudah jauh lebih
berpengalaman dibandingku.
Sesekali aku
menguap dan melakukan gerakan yang salah, hingga Ayah merasa sedikit terganggu.
"Tidur larut malam?" tanya Ayah masih sambil memilin-milin adonan.
"Ya,"
jawabku sekenanya, dan mengikuti gerakan tangan Ayah yang sangat lincah.
"Besok jangan
lagi," tegas Ayah. Ya, aku tahu ia sangat tidak menyukai pekerjaan yang
tidak sempurna apalagi yang disebabkan karena kurang tidur atau beristirahat.
Akhirnya aku mengangguk tanpa berkata-kata lagi.
Kami terus bekerja
membentuk ratusan adonan dalam waktu dua jam. Dan kini kami sampai di tahap
yang paling kusuka, yaitu memilah adonan dan memberikan toping atau hiasan. Aku
memang lelaki tampan yang maskulin, tetapi hal itu tidak membuatku merasa
merasa kalau menghias roti hanyalah pekerjaan anak perempuan. Demi Jenggot
Pegasus aku bukan lelaki lembek yang suka sesame jenis. Buktinya aku bisa
terpesona dengan Gadis Hantu itu, 'kan?
Tunggu. Mengapa ia
masih saja membayangi aku? Aku memukul-mukul kepalaku, namun segera berdeham
keras ketika Ayah memandangku dengan tatapan aneh.
-ooo-
Karena ini hari
Minggu, toko roti kami akan tutup selama tiga jam dari pukul dua belas hingga
pukul tiga sore. Tiga jam itu digunakan kami untuk beristirahat. Karena toko
roti kami selalu buka pada pukul enam pagi. Aku memakai mantel, sepatu bot, dan
syalku. Setelah berpamitan untuk berjalan-jalan sebentar, aku keluar dari toko
melewati pintu depan yang seperti biasa selalu berdering tiap kali dibuka.
Aku memasukkan
kedua tanganku di saku mantelku, untuk menghilangkan rasa dingin yang
membekukan. Beberapa orang yang melintas di dekatku selalu menyapaku dengan
ramah, dan hanya kusahut dengan anggukan sopan dan senyuman tipis, karena aku
tidak suka hal-hal semacam berbasa-basi. Sekalipun demikian, tak ada satu pun
penduduk kota yang menghindariku, terutama para orang tua yang memiliki anak
gadis. Mereka selalu berharap anak gadis mereka menikah denganku. Tetapi aku
selalu mencibir dalam hati. Entah apa yang mereka kejar dariku. Apakah mereka
mengetahui rahasia tentang aku yang akan mewarisi toko roti? Atau karena mereka
tahu aku berasal dari keluarga yang cukup kaya?
Atau karena aku
tampan? Ah, sudah pasti karena alasan terakhir.
Diam-diam aku
menggiring tubuhku untuk kembali ke dekat toko roti, dan berjalan ke sebelah
kiri gedung tempat di mana aku melihat Gadis Hantu itu berjalan ke dataran
kosong di seberang sana, lewat dinding dapur, lalu ia menghilang. Mengapa aku
menyebutnya Gadis Hantu? Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama karena
ia menghilang di dataran kosong. Dan yang kedua, dataran kosong itu konon
adalah tempat angker. Mengapa lagi dikatakan angker? Karena, acap kali orang
mencoba membangun atau menanam sesuatu di sana, selalu saja ada bencanya yang
pada akhirnya membatalkan itu semua.
Dulu aku tidak
percaya pada takhayul macam itu, hingga akhirnya tiga tahun yang lalu aku
melihat sendiri seorang laki-laki tua bermata biru dan bertubuh bungkuk yang
sedang membangun bangunan semi permanen untuk tokonya tertimpa atap yang sudah
setengah berdiri, dan tewas di tempat. Hingga akhirnya kudengar dari desas
desus tetangga bahwa jasadnya tidak pernah ditemukan.
Kh. Sial.
Membayangkan hal itu membuat bulu tengkukku meremang.
Tiba-tiba, dari
belakang toko roti keluargaku, sosok yang sedari kemarin menghantuiku muncul
masih dengan rok mantel merah mudanya. Dandanannya pun masih sama, begitu juga
dengan rona merah di pipinya yang bulat.
Aku terperangah
menatapnya. Secara tidak sadar, aku melangkahkan kaki untuk mendekatinya,
hingga kini aku berada tepat di depan gadis itu.
"Konnichiwa,"
ujarku tanpa membuat ekspresi apa pun.
Gadis itu merunduk
dan tersenyum malu-malu. Ia memainkan kedua jari telunjuknya di depan dada,
lalu menyahut dengan tergagap, "Ko-konnichiwa."
Aku menatap gadis
yang satu kepala lebih pendek dariku itu. Topi merah mudanya ternyata memiliki
bulatan bulu yang bergerak-gerak lucu jika terkena angin. Aku tergoda untuk
menyentuhnya, dan tertawa kecil ketika bulu itu bergerak. Mendengar aku
tertawa, gadis cantik di depanku mendongak dan kini kedua mata kami saling
bertemu.
Demi Atap Rumahku,
mata itu sangat indah. Warnanya ungu pucat dan berkilauan. Pandangannya
menyiratkan kerapuhan dan menunjukkan pada dunia bahwa ia memiliki watak
pengasih. Ia memandangku dengan mata lebarnya dengan raut wajah polos yang
menggemaskan. Tangan kananku terangkat untuk menyentuh pipinya dengan punggung
jari, dan seketika wajahnya semakin merona, lalu ia kembali menunduk.
"Omae
wa—"
"Hinata
desu," potongnya cepat sambil menggerakkan kaki dengan gaya malu-malu.
Hinata. Nama itu memiliki arti yang sangat indah. Aku pernah sekali membacanya
di sebuah buku di perpustakaan pribadi keluarga kami. Nama itu memiliki arti
'tempat yang tertimpa cahaya mentari'. Cocok dengan wajahnya yang terang dan
seakan mampu menghidupkan kembali hal-hal yang sudah mati. Seperti matahari
yang menjadi sumber kehidupan bagi setiap makhluk.
"Aa,"
sahutku sambil mengangguk mengerti. Lalu aku menimpali, "Sasuke. Uchiha
Sasuke."
Ia mengangguk
sambil tersenyum kecil. Ia melihat ke balik pundakku, dan aku menoleh untuk
melihat apa yang sedang ia lihat. Lama aku tak menemukan apa pun yang menarik,
aku menoleh kembali dan tidak menemukan Hinata di manapun.
Jantungku kembali berdegup
keras. Ke mana ia pergi? Demi Tuhan aku merasakan keringat dingin mulai
membanjiri tubuhku. Apakah ia benar-benar Hantu? Lalu, jika memang benar,
mengapa aku merasakan hangat ketika kusentuh pipinya dengan jariku?
Aku semakin
penasaran, sekaligus takut.
To be continued.
-Anonymous hyuuga-
Copied from Facebook-SasuHina Fanfiction.