P E G A S U S Author: Anonymous Hyuuga |
3
Disclaimer:
Masashi Kishimoto, I don't claim Naruto ^^
Warning:
Typo, OOC, AU, Stupid Fantasy, Another utility of Gelel Stone, Dark Naruto
Pairing:
Sasuke U & Hinata H
.
.
.
So this is it!
Anonymous Hyuuga presents
.
.
.
"PEGASUS"
Part Three
Ia menatapku dengan pandangan takut. Bibir bawahnya tampak gemetar, dan
mata ungu mudanya tampak berkaca-kaca. Sebenarnya aku cukup merasa tidak enak
jika ada seorang gadis menangis di hadapanku. Tetapi mau bagaimana lagi? Aku
sudah terlanjur penasaran dengannya. Dan kali ini, aku benar-benar tak bisa
membiarkannya pergi. Aku berjanji akan bertanggung jawab nantinya. Tetapi,
biarkan aku mengetahui lebih lanjut tentang gadis ini.
"Hinata-chan," panggilku dengan lembut. Seenak jidat aku
memanggilnya dengan suffixitu. Tapi persetan. Aku sudah terlanjur
terjerat dalam pesonanya.
Hinata memandangku seakan berkata, 'tolong lepaskan aku'. Tetapi aku justru
menarik pundaknya hingga kami sama-sama keluar dari toko bunga milik keluarga
Yamanaka. Aku membawanya ke sebelah toko itu, di mana ada lahan kecil yang
membatasi toko bunga ini dengan toko meubel di sebelahnya.
"Aku ingin berbicara denganmu. Sebentar saja," bisikku. Kini
posisi kami adalah, aku menghimpitnya di antara tubuhku dengan dinding luar
toko bunga. Kepalaku sedikit menunduk dengan kedua tangan masih mencengkeram
lembut kedua pundaknya.
"Ku-kumohon. Mereka me-membutuhkan aku," bisiknya dengan kepala
tertunduk. Aku melihat ke bawah dan tampaklah sebutir dua butir bening air
mata. Sungguh, hatiku terasa sesak melihatnya menangis. Tetapi bukannya aku
sudah bilang bahwa aku akan bertanggung jawab setelah aku mengetahui semuanya?
"Jangan menangis," kataku sambil berdiri tegak tanpa melepas
cengkeramanku. "Aku hanya ingin mengetahui sedikit tentang dirimu."
Hinata mendongak. Mata ungu mudanya terlihat berkilauan karena bekas-bekas
air mata. Di kedua pipinya yang tampak semakin merona terlihat jalur-jalur air
mata. Sungguh hatiku terasa menghangat kini saat melihat sosok rapuhnya.
"Ha?" tanya Hinata dengan kedua pipi yang semakin memerah.
"Aku ingin mengenalmu," ulangku sedikit lebih jelas.
Sedikit demi sedikit pandangan Hinata bergerak turun. Ia berkata lemah,
"U-Uchiha-san su-sudah tahu namaku."
Aku tersenyum kecil saat mendengar suaranya yang lembut. Ah sial. Aku
benar-benar sudah dikuasai oleh Gadis Hantu ini! Gadis polos dengan pandang
mata tak berdosa. Suaranya lembut dan perkataannya selalu terbata-bata.
Tubuhnya langsing dan rapuh. Cara berjalannya yang tergesa-gesa dan menggemaskan.
Topi dengan bulatan bulu yang ia kenakan. Semua itulah yang selalu membayangiku
tiga hari ini.
"Tidak hanya namamu," timpalku cepat, dan lagi-lagi mata ungu
mudanya bertemu dengan bola mata hitam legamku. Bibirnya tidak terkatup
sempurna dan terlihat deretan gigi putihnya yang rapi, yang menambah pesonanya.
Lugu. Satu kata yang menggambarkan keseluruhan sosok Hinata.
"Lalu?" tanya Hinata dengan bingung sambil memiringkan kepalanya,
sehingga bulatan bulu di kepalanya sedikit bergerak. Tch. Menggemaskan!
Aku menolehkan kepalaku ke sana ke mari, untuk mencari tempat yang lebih
enak untuk berbicara. Dan akhirnya aku menemukan sebuah gudang tua yang aku
tahu sudah lama tidak digunakan. Aku menarik tangan Hinata dan membawanya ke
sana. Kurasakan tangan yang kugenggam sedikit bergetar kala kita sudah sampai
di depan gudang bobrok itu. Kurasa ia mulai berpikir yang tidak-tidak.
"O-oh, aku tidak akan macam-macam padamu," ujarku cepat sebelum
menariknya masuk ke gudang, dan menutup pintunya. Aku menyuruh gadis itu duduk
di tumpukan jerami yang kurasa sudah lama ditumpuk di sana. Sedangkan aku,
duduk di depannya tanpa melepaskan tanganku pada pergelangan tangannya.
"Mengapa kau bisa menghilang?" tanyaku langsung ke intinya.
Gadis itu terlonjak. Ia memandangku dengan mata membuka lebar.
"A-apa?" tanyanya dengan raut wajah ketakutan.
"Tenanglah. Apa pun jawabanmu, aku sudah bersumpah dalam hati untuk
tidak menyebarkannya," bisikku lembut untuk menenangkannya.
Perkataanku tadi membuat ekspresi Hinata melunak. Ia sudah mulai
memperlihatkan ekspresi polosnya yang membuatku terpesona sejak awal.
"U-Uchiha-san ja-janji tidak akan menyebarkannya?" tanya Hinata
sedikit merasa ragu. Namun aku tahu ia adalah orang yang mudah mempercayai
seseorang, sehingga aku bisa memanfaatkan keadaan ini. Tetapi demi planet bumi,
aku tidak akan menyebarkannya untuk kepentinganku sendiri, apa pun jawaban yang
dilontarkannya.
"Ya. Oh, jangan panggil nama keluargaku. Panggil aku 'Sasuke',"
sahutku. Aku meremas pelan pergelangan tangannya, untuk menambahkan ketenangan
dan kepercayaannya.
"Sa-Sasuke," bisiknya, lalu ia tersenyum dengan kepala sedikit
menunduk. Kemudian ia kembali menegakkan kepalanya. Ia menarik pelan tangan
kirinya dan menyibak poninya sedikit ke samping.
Saat itulah aku melihat bercak bundar di keningnya terlihat berkilauan.
Seakan bercak itu memancarkan cahaya yang menyilaukan. Tetapi ternyata memang
begitu adanya. Bercak di kening Hinata lambat laun terlihat seperti berlian
yang memantulkan cahaya mentari. Aku termangu melihatnya. Terlalu mempesona
buatku.
"Sasuke-san benar-benar bersumpah?" tanya Hinata lagi untuk
meyakinkan dirinya sendiri. Aku mengangguk samar tanpa mengalihkan perhatian
dari kening Hinata yang menyita perhatianku.
Aku membelalakkan mata dan sedikit terlonjak ketika melihat sesuatu yang
panjang dan runcin mulai tumbuh dari bercak bundar di kening Hinata itu. Sukses
mulutku menganga dibuatnya. Benar kata Ayah. Ia Pegasus.
"Sudah mengerti?" tanya Hinata dengan raut wajah sedih. Lambat
laun benda runcing itu kembali menghilang dan menyisakan bercak bundar di
keningnya. "Se-sesungguhnya ini rahasia besar."
Sial. Aku sudah membuatnya membeberkan rahasia besarnya. Aku menunduk dan
diam-diam merasa bersalah. Seharusnya aku sudah tahu itu. Aku menggumamkan kata
maaf yang nyaris tidak terdengar.
"Daijoubu. A-aku percaya pada Sa-Sasuke-san," bisiknya malu-malu.
Aku mendingak dan mendapati wajah gadis itu memerah. Tiba-tiba ia tampak
seperti baru saja mengingat sesuatu. Ia membelalakkan kedua matanya dan
menengok ke sana ke mari. "Ja-jam berapa sekarang? A-aku harus buru-buru
pu-pulang!" serunya dengan raut wajah panik.
Aku mengerutkan kening tidak mengerti.
"Ada apa?" tanyaku sembari mengeratkan genggamanku pada tangan
Hinata.
Hinata memandangku dengan pandangan berkaca-kaca yang sama dengan yang
tadi. Sial. Hatiku kembali mencelos melihat kedua bola mata ungu mudanya
berlinang air mata. Apakah aku yang membuatnya menangis? Kalau memang ia, aku
tak akan memaafkan diriku sendiri. Sungguh.
"Mereka… Me-mereka dalam bahaya," bisiknya lagi. Tubuhnya kini
bergetar. "A-aku harus pergi, Sasuke-san. Le-lepaskan tanganmu."
Mereka? Siapa 'mereka' yang dimaksud Hinata? Dan apa maksudnya 'dalam bahaya'?
"Jelaskan padaku," desakku dengan mimik wajah serius.
"To-tolonglah. Ti-tidak ada waktu lagi!" jeritnya sembari mulai
terisak.
"Akan kulepaskan. Tetapi ada satu pertanyaan," kataku lagi.
Bodoh. Apa-apaan aku ini? Bagaimana jika yang dimaksudkan oleh Hinata memang
benar-benar penting? Kalau memang begitu, lantas mengapa aku terus menerus
mencegahnya pergi? Jujur, kali ini aku benar-benar egois. Aku ingin menahan
gadis ini lebih lama lagi untuk diriku sendiri.
"Cepat," sahut Hinata dengan tubuh kian bergetar. Aku mengeratkan
genggamanku untuk menenangkannya, dan lambat laun tubuhnya mulai terasa rileks.
"Apakah… apakah Pegasus boleh menikahi manusia?" Tch. Pertanyaan
apa itu? Bodoh. Aku menyesali pertanyaanku yang barusan. Wajahku mulai terasa
panas ketika aku menyadari kata 'Pegasus' yang kumaksud adalah Hinata, dan
'manusia' adalah aku.
"Bo-boleh, tapi harus ada pengorbanan," jawab Hinata dengan
sangat cepat.
"Ka-kau… kau berniat menikahi manusia?" tanyaku lagi, semakin
menghabiskan waktu. Aku mengutuk diriku sendiri soal ini. Tetapi benar, aku
akan bertanggung jawab akan apa yang terjadi jika aku terus menerus menahan
dirinya seperti ini.
"Aku harus pergi!" jerit Hinata dengan air mata yang kian
membanjir.
Spontan aku terkejut dan segera melepaskan kedua tanganku dari pergelangan
tangannya. Kurasa ia benar-benar sudah merasa kesal dengan sikapku.
"Gomen," ujarku pelan.
Hinata bangkit berdiri sambil meraih barang belanjaannya. Aku menatapnya
yang juga tengah melihatku. Matanya yang banjir air mata terlihat sendu, tetapi
ia terus memaksakan senyum, yang membuat hatiku terasa semakin sakit. Ia
menunduk mendekatiku dan mencium keningku.
Sial. Wajahku memerah hanya karena dicium seorang gadis!
"Jaa mata ne? Itte kimasu," ujarnya dengan suaranya yang sangat
lembut.
Aku mengangguk lalu mengedip, dan saat aku membuka mata, aku sudah
benar-benar sendirian di gudang tua ini. Gadis Hantu itu benar-benar sudah
pergi. Entah mengapa, saat ada dirinya di sini, gudang tua ini terasa hangat
dan bercahaya. Namun kini sumber kehangatan dan cahaya itu sudah pergi. Yang
tersisa hanyalah kegelapan dan dingin yang menusuk tulang.
Aku menggigil dan spontan merapatkan mantelku. Diam-diam aku merasa senang
sudah mengetahui hal paling besar tentang Hinata. Aku sudah mengetahui bahwa ia
adalah 'seorang' Pegasus. Pegasus yang sangat cantik dan mengagumkan. Pegasus
yang sudah memenjarakan aku dalam cahaya pesonanya. Jantungku mulai terasa
berdebar hebat jika aku mengingat wajah lugunya yang tersenyum, atau kepalanya
yang bergerak sehingga bulatan bulu di ubun-ubunnya bergerak. Kurasa aku sudah
jatuh cinta pada hewan mitologi.
-ooo-
"Tadaima!" seruku sesaat setelah membuka sepatu dan
menggantungkan mantel di sebelah pintu toko. Yang kulihat di sana adalah
pemandangan sehari-hari yang sudah biasa. Ayah yang berdiri di belakang meja
kasir dengan banyak pelanggan di depannya yang sedang memilih-milih roti atau
mengantre untuk membayar. Di depan rak display ada Ibu yang baru saja menutup
tutup rak dengan sarung tangan menutupi tangannya sampai ke siku. Dan seperti
biasa, di sudut ruangan ada kakak laki-laki bodoh yang sedang membersihkan vas
bunga.
"Okaeri. Kau dari mana saja?" tanya Itachi sambil meniup-niup
noda di vas bunga malang itu.
Aku tidak menanggapinya dan malahan berkata, "Tolong gantikan Otousan
sebentar, Aniki. Aku ingin berbicara dengannya."
Itachi mengangkat bahu dan mengangguk. Ia berkata sesuatu pada Ayah, dan
Ayah segera meninggalkan kasir dan menghampiriku. Aku segera menariknya ke
dapur, tempat di mana tak ada seorang pun di sana.
"Nan desu ka?" tanya Ayah sesaat setelah kami duduk di depan
oven.
Aku mengatupkan kedua tanganku di depan hidung, dan berkata, "Tousan
benar."
"Hn?" sahut Ayah tidak mengerti. Namun lambat laun ia mulai
memahami, karena ia bertanya, "Kau sudah bertemu Hinata?"
"Hn," jawabku, "Ia—" Aku menghentikan kata-kataku
ketika aku teringat apa yang sudah kukatakan pada Hinata. Ayah mengerutkan
keningnya dengan raut wajah bertanya-tanya. Lalu aku menghela napas dan
melanjutkan, "Gomen. Aku sudah bersumpah."
Ayah mengangguk mengerti. Ia beranjak berdiri dan berkata, "Pegang
sumpahmu." Lalu ia berjalan kembali ke toko, meninggalkan aku sendirian di
dapur yang dipenuhi hawa panas dari oven yang menyala di mana-mana.
Lagi-lagi aku merenung. Kembali aku memikirkan pertemuan terakhirku dengan
Hinata, di mana Hinata mengatakan soal 'Mereka dalam bahaya' atau 'Mereka
membutuhkanku'. Aku masih tidak mengerti soal perkataannya. Dan lagi-lagi aku
merasa bersalah.
Aku pun beranjak berdiri, dan segera memulai tugasku sebagai calon pewaris
toko roti keluarga Uchiha. Kupasang apron merah marunku, dan aku mulai
mengambil roti mentah yang disimpan Ayah di lemari es. Kutata roti-roti itu di
atas sebuah loyang, dan kumasukkan ke dalam oven yang masih menyala. Meskipun
Ayah sudah memberiku libur selama seminggu, aku merasa tidak enak jika harus
berdiam diri, karena sudah terbiasa bergerak untuk bekerja.
-ooo-
Tak terasa sudah pukul delapan, yang artinya toko kami sudah harus tutup.
Aku melepas celemekku, dan mulai membantu Itachi membersihkan toko dan dapur.
Ayah mengambil uang yang ada di kasir, dan melakukan pencatatan bersama Ibu di
dalam kamar mereka.
Sudah bersih semuanya. Aku berpamitan pada Itachi, dan naik ke lantai dua
untuk membasuh wajah dan tidur. Saat aku sudah berbaring di atas tempat tidur,
aku merasakan mataku tidak juga mau tertutup. Bayang-bayang wajah Hinata yang
menangis siang tadi membuat aku merasa jantungku seperti dipukul sebuah godam
besar yang menyakitkan.
Setelah bersusah payah memejamkan mata, akhirnya aku jatuh tertidur dan
langsung diserang sebuah mimpi buruk.
Berikut mimpi burukku; aku melihat seekor kuda sembrani berwarna merah muda
nyaris putih dengan surai indigo terbang melintasi langit abu-abu dengan
suasana perang di sekitarnya. Terbangnya tidak sempurna. Ketika kuperhatikan,
pinggang kuda itu terluka dan meneteskan darah segar. Kuda itu berteriak.
"Sasuke!"
Jeritan itulah yang kudengar. Kuda itu memanggil namaku. Siapa dia?
Aku terbangun dengan napas terengah-engah. Keringat mulai bercucuran dan
membasahi seluruh tubuhku. Jantungku berdebar hebat, dan mataku terbuka lebar.
Hal pertama yang melintas di benakku adalah 'Hinata'.
"Hinata-chan," bisikku sembari mendudukkan tubuhku di atas tempat
tidur. Aku segera berjalan ke dapur keluarga untuk mencari air mineral. Aku
menemukan segelas air di atas meja makan, dan segera meneguknya sampai habis.
Sayup-sayup aku mendengar suara gedoran di pintu kaca toko yang ada di bawah.
Aku meneguk ludah. Siapa gerangan yang datang malam-malam begini?
Ternyata tak hanya aku yang mendengar. Kudengar suara pintu kamar Ayah dan
Ibu berderit, dan aku melihat Ayah keluar dengan kimono tidurnya.
"Siapa itu, Sasuke?" tanya Ayah yang segera menghampiriku ke
dapur.
Aku mengangkat bahu, dan kami memutuskan untuk melihatnya bersama. Kami
turun ke lantai bawah, dan berjalan ke toko yang terletak di bagian depan
bangunan rumah kami. Dinding kaca toko kami sudah ditutup dengan tirai-tirai,
begitu juga dengan pintunya. Ayah membuka tirai di pintu toko itu, dan yang
pertama kami lihat adalah sesosok gadis berambut panjang berwarna indigo tengah
menggedor-gedor pintu itu dengan wajah panik dan mata berlinang air mata.
Spontan aku segera menyeruak ke depan Ayah, dan membuka pintu itu. Gadis
itu jelas adalah Hinata. Sesaat aku bertanya-tanya, bagaimana ia mengetahui
rumahku. Aku melihatnya masih mengenakan rok mantel merah mudanya, dan topi
dengan bulatan bulu. Ia segera menghambur ke dalam pelukanku dan terisak di
sana.
Aku menoleh ke arah Ayah, dan memandangnya dengan pandangan bertanya,
sedang Ayah hanya mengangkat bahu. Aku bertanya pada Hinata, "Ada
apa?"
Hinata tidak menjawab. Ia masih terus terisak di dalam pelukanku, hingga
akhirnya ia melepaskan pelukannya, dan berkata, "Pe-perang. Perang
su-sudah meletus di negeriku."
Aku tertegun mendengarnya. Otomatis pemikiranku bergerak ke saat-saat aku
dan Hinata berada di sebuah gudang tua. Kata-kata 'mereka dalam bahaya' mulai
bergaung di dalam kepalaku. Aku memandang Hinata dalam diam. Napasku mulai
memburu dan sejenak rasa takut menguasaiku.
"A-aku bu-butuh bantuanmu, Sasuke-san. To-tolonglah. I-ini semua
karena aku yang terlambat datang ta-tadi siang," kata Hinata sembari
terisak keras.
Itu bukan kesalahanmu, Hinata. Aku yang sudah membuatmu terlambat. Aku yang
sudah menahanmu untukku sendiri. Aku yang sudah terlalu egois, dan kini
membahayakan 'mereka'.
Tunggu. Bukankah aku sudah bilang, kalau aku akan bertanggung jawab?
Aku menarik napas dalam, dan berkata tegas, "Aku akan membantumu."
Sesaat kulihat Hinata tersenyum. Aku melepaskan tangannya yang masih
memegang lenganku, dan segera berbalik badan untuk meminta persetujuan Ayah.
Sebelum aku sempat bertanya, Ayah sudah mengangguk dan berkata,
"Hati-hati."
Aku tersenyum, dan segera keluar tanpa menggunakan mantel atau sarung
tangan yang baru kubeli. Aku berjalan mengikuti Hinata yang bergerak memutari
rumahku, hingga akhirnya kami sampai jauh di belakang dapur, tempat di mana
dataran angker itu berada.
Hinata mengulurkan tangannya padaku, dan berkata, "Peganglah."
Aku menurut, lalu memegangnya. Dan satu detik berikutnya, aku sudah berada
di dunia lain.
-ooo-
Terpesona aku melihat yang ada di depanku. Ini bukan seperti dunia dongeng,
tempat di mana peri beterbangan dan warna-warni menyebar di segala penjuru.
Dunia ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan dunia dongeng yang
kumaksudkan. Ini lebih terlihat seperti mimpi buruk.
Api di mana-mana. Api ini berbeda. Tidak berwarna merah keoranyean,
melainkan berwarna hijau. Langit berwarna abu-abu berhias asap yang membumbung
tinggi. Kehancuran di segala penjuru. Aku terkadang melihat kuda-kuda sembrani
yang berjalan terpincang-pincang atau terbang tidak sempurna. Sejenak kepalaku
terasa sakit ketika mengingat mimpi buruk yang baru menyerangku beberapa menit
yang lalu.
"Li-lihat," bisik suara di sebelahku. Aku hampir saja lupa akan
keberadaan Hinata di sebelahku, dan nyaris terlonjak ketika kudapati Hinata
sudah berubah wujud. Tubuh rampingnya berwarna merah muda yang sangat
muda—nyaris putih—tidak seperti kuda-kuda pada umumnya, surainya berwarna
indigo, begitu juga ekornya yang menjuntai nyaris menyentuh tanah. Ada sebuah
sayap berwarna putih yang sedikit mengatup di sebelah kanan dan kirinya.
Punggungnya dibalut pelana indah berwarna perak yang cemerlang. Benda runcing
berwarna perak tumbuh horizontal di dahinya, dan di atas kepalanya tergantung
sebuah benda sejenis kalung yang juga berwarna perak. Ia menoleh ke arahku, dan
kulihat matanya berwarna ungu muda. Pegasus ber-image manusia.
Mungkin penggambaranku sedikit mengerikan, namun demi Tuhan, ia sangatlah
cantik dan menawan. Mataku nyaris tak dapat berpindah darinya. Ia menawan
hatiku. Menawan segala kesadaran dan emosiku. He, Sasuke. Ia dalam bahaya
sekarang. Jangan berpikir yang tidak-tidak!
"Naiki aku," kata Hinata.
Aku melongo. Yang benar saja? Menunggangi gadis… kh. Tolonglah! Jangan
berpikir yang tidak-tidak!
"Cepat," desak Hinata dengan suara bergetar.
Sesuai instruksinya, aku menaiki punggungnya yang berbalutkan pelana indah,
dan aku segera merasa tubuhku diangkat, karena sayap Hinata sudah mengepak dan
membawaku dan dirinya terbang. Sebentar aku merasa takut, namun lambat laun
mulai merasa terbiasa dan bisa duduk dengan tegap.
"Kita akan ke mana?" tanyaku keras-keras karena suasana bising di
sekitarku sedikit tidak memungkinkan untuk mendengar suara pelan.
Hinata tidak menjawabku, dan terus membawaku terbang hingga akhirnya kami
sampai di sebuah rumah cantik berwarna putih dengan ornamen-ornamen emas di
bagian luar maupun dalamnya. Ia menyuruhku masuk. Saat aku tengah mengagumi
bagian dalam rumah itu, Hinata masuk dalam sosok manusianya. Rambut panjangnya
yang indah nampak jauh lebih indah. Bagian pinggirnya di kepang ke belakang,
dan sisanya dibiarkan tergerai bebas, sedangkan poninya menggantung di dahinya.
Di kepalanya tergantung benda sejenis kalung tadi. Baru kuperhatikan, benda itu
berbentuk seperti bangun datar layang-layang, dan berhiaskan permata rubi di
bagian ujung atasnya.
Hinata mengenakan gaun panjang berwarna putih dengan sedikit aksen warna
merah muda pucat di bagian lengannya. Gaun itu menjuntai sampai ke lantai dan
sedikit mengekor. Aku sangat terpesona. Sesungguhnya siapa Hinata?
Ia sadar aku memandanginya, karena kepalanya sedikit menunduk dengan rona
di wajahnya. Kemudian aku berdeham, dan Hinata segera menyadari sesuatu. Ia
menarik tanganku ke sebuah ruangan di dekat situ, dan menutup pintunya.
Ruangan yang kami masuki ternyata adalah sebuah kamar. Jantungku sedikit
berdegup kencang saat menyadari aku berada di dalam kamar tidur bersama seorang
gadis. Dengan cepat aku menepis pemikiran itu dengan menggelengkan kepalaku
sekali.
"Apa?" tanyaku tanpa merubah ekspresi datar andalanku. Sebelum
menjawab, ia mengisyaratkan aku untuk duduk di salah satu sisi ranjang yang
lebih pendek, dan ia duduk di sisi ranjang di sebelahku, hingga kami tidak
duduk berhadapan.
"I-ini rumah Ibuku," ujar Hinata. Aku melihat gestur tubuhnya
yang menunjukkan ia sedang bersedih. Dengan reflek aku menyentuh tangan
kanannya dengan tangan kiriku dan menggenggamnya. Hinata sedikit terlonjak. Ia
menoleh ke arahku, dan aku membalas pandangannya tanpa berekspresi.
"Lanjutkan," ucapku setelah jeda beberapa detik.
"I-ibuku adalah 'seorang' Ratu Pegasus. Beliau adalah satu-satunya
penduduk ne-negeri ini yang mampu memanipulasi ruang dan waktu, da-dan hanya ia
yang bisa mengubah wujudnya menjadi manusia—dan kini keahliannya diturunkan
padaku," jelas Hinata panjang lebar. Aku terus menyimaknya. "Ia
menikahi seorang manusia dan lahirlah aku. Ka-karena takut te-terjadi sesuatu
padaku, beliau membawa aku kembali ke negeri ini dan meninggalkan Ayahku."
"Lalu?" tanyaku untuk memaksanya menceritakan semuanya.
"Karena Ibuku membuka pintu gerbang antara negeri ini dengan negeri
manusia, secara tak sengaja tiga tahun yang lalu ada seorang manusia datang ke
mari," jelas Hinata lagi, "Ia tinggal di sini sebagai seorang
laki-laki baik hati selama satu tahun hingga—"
Gadis Hantu itu menghentikan ceritanya, karena ia mulai terisak. Aku
melepaskan genggamanku, dan berjalan ke depannya, lalu berlutut di sana dan
merengkuhnya ke dalam pelukan. Ia terus terisak di dalam pelukanku.
"A-arigatou, Sasuke-san," kata Hinata sembari menarik diri dari
pelukanku, dan aku masih terus berada di posisiku. "Hingga dua tahun yang
lalu, pria itu membunuh Ibuku, dan mengambil alih kekuasaan. Ia membuat seluruh
makhluk di sini terikat dengannya, dan tidak boleh kembali ke dunia manusia
dengan cara menutup pintu gerbangnya. Sesungguhnya, yang terakhir tadi, saat
aku ke tokomu, itu menggunakan keahlian yang diturunkan Ibuku. Selain itu, ia
mengancam kami semua untuk terus memberikannya persembahan berupa coklat cair,
gula-gula, dan bunga melati."
'Ya, tadi ia ke mari. Tetapi hanya membeli coklat cair dan gula-gula.' Seketika,
perkataan Nenek Chiyo terngiang-ngiang di otakku, ditambah lagi bayang-bayang
Hinata yang terus menerus membawa bunga melati. Rupanya semua itu untuk makhluk
berengsek yang menyebabkan ini semua? Diam-diam aku merasa geram, karena orang
itu sudah merebut kebahagiaan Hinata.
"Konyol, ya?" tanya Hinata sembari tertawa kecil. Aku tersenyum
saat melihatnya tertawa. Sambil tertawa, ia melihatku tersenyum dan segera
menghentikan tawanya dengan wajah bersemu merah. Lalu ia melanjutkan dengan
tergagap, "I-ini ka-karena siang ini aku lupa wa-waktu di dunia manusia,
sehingga persembahannya te-terlambat."
Aku tertegun. Aku memandangnya dengan perasaan bersalah. Aku bergumam,
"Gomen na sai. Ini semua salahku."
Hinata terlonjak akan perkataanku. Mata lugunya menatapku dengan bingung,
lalu ia berkata pelan dengan tangan kanan menyentuh pipiku, "Sasuke-san.
A-aku tidak mengerti mengapa kau me-menyalahkan dirimu."
"Demi Tuhan jika aku tidak menahanmu di gudang, dan menghujanimu
dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh, ini semua tidak akan terjadi!"
timpalku sambil mati-matian menahan air mata. Pasti malu, 'kan jika seorang
laki-laki tampan sepertiku menangis di depan perempuan?
Gadis Hantu itu terdiam. Tangannya masih menempel di pipiku. Kurasa ia
tidak tahu bagaimana caranya membalas perkataanku, karena merasa kata-kataku
tadi benar.
Aku menarik tangannya dari pipiku, dan berdiri di depannya. Dengan sepenuh
hati aku mengumumkan, "Aku akan mempertaruhkan nyawaku di sini."
Hinata ikut berdiri di hadapanku. Dengan cekatan, ia melepaskan kalung yang
ternyata dipakainya. Liontin kalung itu berbentuk seperti telur dan berwarna
biru muda, dengan corak lengkungan-lengkungan di depannya. Ia menyerahkannya
padaku sembari berkata, "Pakailah."
"Ini apa?" tanyaku sembari memandangi batu berwarna biru yang
kini ada di tanganku itu.
"Batu Gelel. Kami biasa menyebutnya sebagai Batu Harapan. Berharaplah,
dan semua akan dikabulkannya," jelas Hinata. Ia mengambil lagi kalung itu
dan memasangkannya di leherku. Posisi kami seperti berpelukan saat ini,
sehingga membuat tubuhku menegang dan jantungku berdegup keras. Aku sangat
yakin ia juga merasakan hal yang sama, karena kedua pipinya memerah sempurna,
dan ia tampak enggan menatapku.
"Arigatou," kataku sambil terus menatap mata ungu pucatnya yang
lugu dan menawan. Ingin rasanya aku mengecup mata itu, dan mengatakan padanya
kalau aku menyukai warna matanya yang unik.
"Do-doita. Pria itu lawan yang sangat kuat, karena kini ia memiliki
rubah raksasa itu. Ia membebaskannya dari segel yang dibuat Ibuku untuk
mengurungnya di sebuah gua," kata Hinata untuk memperingatkanku.
Aku mengangguk mengerti. Sesaat setelah aku mengangguk, lengan putihnya
sudah melingkari leherku. Ia terisak di sana dan mengucapkan kata-kata
keberuntungan. Aku membalas pelukannya dengan melingkarkan lenganku di
pinggangnya yang ramping. Kusandarkan kepalaku pada kepalanya yang menguarkan
harum buah anggur. Aku berharap waktu 'kan berhenti, dan membiarkan momen ini
abadi.
Baru saja aku berharap demikian, setengah bagian kamar ini rubuh karena
ditimpa sesuatu yang besar. Aku melepaskan pelukan kami dan bersikap sebagai
tameng buat Hinata. Aku merentangkan tanganku sembari berdiri di depan Gadis
Hantu itu. Sekarang aku melihat penyebab hancurnya setengah bagian kamar itu.
Sebuah tangan—atau kaki?—yang sangat besar berwarna coklat kemerahan. Kuku-kuku
jarinya yang tajam membuatku bergidik ngeri. Detik berikutnya, kudengar suara
raungan keras yang mengerikan.
Tak lama, satu tangan-atau-kaki itu menyerang bagian lain dari kamar. Aku
meneriakkan kata 'mundur' pada Hinata, dan melihat sosok apa sebenarnya yang
memberikan kehancuran. Aku terlonjak, ketika sebagian kamar ini sekarang
berubah menjadi ruangan terbuka, aku melihat sosok itu. Sosok berkepala rubah
dengan mulut menganga sehingga menunjukkan kedua taringnya yang tajam dan
besar. Semakin lama sosoknya terlihat semakin jelas.
Dan aku bersumpah, ia memiliki sembilan ekor.
To be continued.
-Annonymous Hyuuga-
Copied from Facebook-SasuHina Fanfiction
P E G A S U S Author : Anymous Hyuuga | 2
Disclaimer:
Masashi Kishimoto, I don't claim Naruto ^^
Warning:
Typo, OOC, AU,
Stupid Fantasy, Another utility of Gelel Stone, Dark Naruto
Pairing:
Sasuke U & Hinata H
.
.
.
So this is it!
Anonymous Hyuuga presents
.
.
.
"PEGASUS"
Part Two
Aku memutuskan
untuk kembali ke rumah, setelah sejenak aku berdiam diri memandangi kekosongan
di hadapanku. Segera setelah aku menghentakkan kakiku di depan pintu toko,
menggantung mantel, dan melepaskan sepatu botku, aku berjalan ke lantai atas
tempat di mana rumah kami berada. Tangga yang kini aku naiki berujung di ruang
makan keluarga kami, sehingga spontan setelah aku sampai di lantai dua, aku
bisa melihat anggota keluargaku yang sedang bersiap untuk makan siang.
"Sasuke, ayo makan,"
kata Ibu sembari meletakkan sepanci sup miso di atas meja makan.
"Arigatou,
Okaasan. Aku tidak lapar," sahutku sambil tersenyum hambar dan segera
berjalan ke kamarku dan menutup pintu.
Aku memperhatikan
seisi kamarku. Sejenak perasaanku hampa karena gadis itu. Menyebalkan. Kami
bahkan belum sempat melakukan percakapan berarti, dan hanya saling bertukar
nama. Tetapi ia segera menghilang begitu saja, dan membuat perutku sedikit
bergejolak saat menyadarinya. Sudah begitu, ia dengan seenaknya mampir ke dalam
otakku dan membuat aku terus-terusan memikirkannya.
Aneh. Aku merasakan
sekujur tubuhku dingin. Tidak. Bukan karena ini musim dingin. Biasanya,
sekalipun musim dingin, kamarku masih akan terasa cukup hangat. Namun kali ini
berbeda. Kakiku terasa gemetar dan bibirku tidak berhenti bergerak. Kh. Dengan
gusar aku menyambar mantel bulu yang kugantung di dekat lemari. Aku
mengancingkan mantel itu hingga nyaris menyentuh bibir—karena kerah mantel itu
luar biasa tingginya.
Sudah tahu merasa
kedinginan, aku tidak ada niat sedikitpun untuk naik ke tempat tidur dan
bergelung di bawah selimut tebalku. Alih-alih berbuat demikian, aku justru naik
ke ambang jendela dan duduk bersila di sana. Kupandangi lingkungan sekitarku
yang dipenuhi warna putih salju. Sesekali aku menghela napas dan
menggosok-gosokkan dua telapak tanganku. Sial. Sang Pecinta Musim Dingin yang
Tampan ini kedinginan di musim dingin. Oke.
Beberapa pemikiran
mulai menerjang otakku. Mulai dari gadis itu yang kupandangi di toko bahan kue.
Gadis itu yang berjalan ke lahan kosong angker dan menghilang. Hingga
perkenalan singkat kami sebelum ia menghilang dalam waktu sepuluh detik tanpa
sedikit pun aku melihatnya.
Seharusnya aku
tidak perlu memikirkan itu, bukan? Siapa tahu ia berjalan ke arah yang berlawanan
dengan arah pandanganku, sehingga ketika aku berbalik untuk melihatnya, ia
sudah tidak ada. Begitu, 'kan? Tidak mungkin seperti itu. Demi Kuku Jari Uchiha
Fugaku, aku sudah memastikan tubuhku untuk berputar tiga ratus enam puluh
derajat, namun aku tak juga melihat bulatan bulu di topinya!
Aku mengacak-acak
rambutku. Baru kali ini ada pemikiran absurd yang menguasai
kepalaku. Menjajah seluruh tenagaku untuk terus menerus memikirkannya, dan
mencari kemungkinan-kemungkinan yang rasional. Namun sia-sia, gadis bernama
Hinata itu sudah membuat aku menjadi seorang irasionalis.
Kurasakan kepalaku
semakin terasa berat dan sedikit sakit. Aku pun memutuskan untuk berbaring
sebentar dan meredakan sakitnya. Dengan cepat, aku segera terjun dari ambang
jendela dan mendarat di kasur dengan sempurna. Kunyamankan posisi berbaringku,
dan aku menarik selimut tebal itu hingga ke ujung kepalaku. Demi Bantal Yang
Kutiduri, aku sudah memakai berlapis-lapis kain tebal, tetapi tak sedikitpun
aku merasa hangat!
Dengan tubuh
bergetar hebat karena menggigil, aku semakin menggelung hingga, aku berani
bertaruh, lututku menyentuh dahiku. Lama aku tak bisa mendapatkan kehangatan,
kepalaku semakin terasa sakit dan aku merasakan dunia seperti berputar, dan
terus berputar hingga aku kehilangan kesadaran.
-ooo-
"Sasuke?
Bangun, Nak." Sayup-sayup aku mendengar suara Ibu dari kejauhan. Aku
mengerang pelan dan segera membuka mata ketika kurasakan rasa dingin mulai
kembali menyerangku.
Setelah membuka
mata, aku melihat Ibu duduk di sebelah kananku sambil memandangku dengan penuh
rasa khawatir. Aku berusaha berbicara namun yang terdengar hanyalah geraman .
Suaraku serak.
Ibu menyentuhkan
tangannya di dahiku, dan berkata, "Tubuhmu panas sekali, Sayang."
Aku menggerakkan
kepalaku untuk mengusir tangan Ibu sembari mengerang. Kh. Menyusahkan! Mengapa
aku harus jatuh sakit di saat seperti ini?
"Okaasan,
a-aku masih bisa bekerja," kataku dengan susah payah sembari meposisikan
diriku untuk duduk. Ah, aku merasa seperti pria tua tampan yang kesusahan untuk
duduk.
"Iie,"
tukas Ibu dengan tegas. Ia menyentuhkan tangan kirinya pada belakang kepalaku,
dan meletakkan tangan kanannya di pinggang kiriku untuk mengembalikan posisiku
yang semula berbaring. Sembari menggerutu, aku akhirnya menurut saja karena
kepalaku memang sangat sakit. "Mengapa bisa begini?" tanya Ibu lagi
sembari membelai rambutku dengan sayang.
Ibu, tolong jangan
buat anakmu ini menjadi manja! Lihatlah ekspresiku. Aku sedang menahan keinginan
untuk berbaring di pangkuannya. Untung pertahanan diriku cukup kuat sehingga
dengan satu tarikan napas aku sudah bisa menghilangkan keinginan itu.
Tunggu. Tadi apa
yang ditanyakan Ibu? 'Mengapa bisa begini'? Ah, benar. 'Mengapa bisa begini?'
Mengapa aku bisa tiba-tiba jatuh sakit? Jangan bilang ini karena Gadis Hantu
itu? Tolonglah, kalau memang benar ia yang membuat aku ketakutan sampai jatuh
sakit, jangan sebut aku laki-laki. Tidak. Pasti bukan karena Hinata. Ini pasti
karena semalam aku bukannya langsung tidur tetapi justru berdiam diri di ambang
jendela, dan bangun pada pagi buta. Ya, pasti karena aku tidur larut malam.
"Tidur
larut," jawabku saat sudah merasa yakin karena apa.
Ibu mendesah kesal.
Ia memandangku galak—tetapi tidak bisa membuat aku menciut seperti jika Ayah
yang memandang galak. Jujur, wajah galak Ibu masih bisa ditoleransi bahkan oleh
anak berusia tiga tahun sekali pun. Memang dasar ia sangat cantik. Sama halnya
denganku yang tampan ini. Aku sangat yakin jika aku sedang marah, para wanita
masih akan terus mengejar-ngejarku. Aku yakin itu.
"Malam ini,
tidak ada tidur larut!" ujar Ibu tegas. Ia berdiri dari tempat tidurku dan
berjalan pergi setelah mengatakan, "Akan Haha buatkan 'Kotoran telinga
gajah',"
Aku meneguk ludah
saat Ibu mengatakan itu. Sungguh, itu bukan benar-benar 'kotoran telinga
gajah', tetapi merupakan obat racikan Ibu sendiri yang warnanya hijau sedikit
kuning—seperti ingus—dan baunya sangat busuk dengan rasa pahit yang memuakkan.
Saat aku bertanya Ibu membuatnya dengan apa, Ibu hanya tersenyum lebar dan
tidak menjawab. Memang obat itu sangatlah mujarab—kau bisa sembuh dari demammu
dalam waktu lima jam—tetapi, siapa gerangan yang mau meminum obat menjijikkan
itu?
Aku melirik jam
dinding dan sedikit terhenyak saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga
lewat lima belas. Oh, aku merutuk pada diriku sendiri, mengapa aku harus sakit
dalam keadaan seperti ini? Seharusnya aku sudah di dapur untuk membantu Ayah
memanggang roti, tetapi aku justru enak-enakkan tidur di saat semuanya bekerja.
Aku bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan jenis kelaminku.
Aku merasa tidak
seperti laki-laki—sekalipun wajahku sangat amat tampan.
-ooo-
Segera aku
terbangun dari tidur ketika kurasakan tubuhku diguncang. Demi Tuhan aku yakin
mimpi burukku sudah datang. Dan benar. Saat aku membuka mata, aku melihat Ibu
sudah membawa gelas ocha sembari tersenyum padaku. Aku tidak dapat mengartikan
senyuman itu.
Dengan enggan aku
beranjak duduk dan segera meraih gelas ocha yang dipegang Ibu. Aku meneguk
ludah ketika cairan berwarna hijau yang sedikit kental itu bergerak-gerak
menjijikkan. Aku nyaris muntah saat menghirup baunya yang seperti kotoran
telinga. Demi kesembuhan, batinku. Aku memejamkan mata, menutup
hidung dengan tangan kiri, dan mengernyit jijik ketika aku mulai meminum
'kotoran telinga gajah'.
Baru separuh gelas
aku meminumnya, aku sudah tidak tahan dan terbatuk-batuk karena nyaris muntah.
"Akhu tidhak
khuat, Okhaasan," ujarku sembari menyodorkan kembali gelas ocha itu pada
Ibu.
"Harus
dihabiskan," tegas Ibu tanpa tanggung-tanggung. Melihat aku yang tidak
merespon, Ibu segera merebut gelas itu dan membuat aku meminumnya sampai habis
dengan paksaan. Aku membelalakkan mata karena tidak sempat menutup hidung, dan
mau tak mau menelannya sampai tandas. Lagi-lagi aku terbatuk-batuk. Aku yakin
wajahku sudah berubah hijau sekarang. "Anak pintar. Sekarang
tidurlah," ujar Ibu sambil tersenyum. Ia membaringkan aku, menyelimutiku,
dan mengecup dahiku dengan lembut.
Aku membalas
senyumannya. "Arigatou, Okaasan," bisikku sambil memejamkan mata dan
mulai kembali terbawa ke alam tidur.
-ooo-
Ketika aku
terbangun, jam dinding sudah menunjuk pukul delapan lebih sedikit. Aku sudah
merasa luar biasa lebih baik. Ini pasti karena 'Kotoran telinga gajah'. Obat
menjijikkan itu memang sangatlah teramat manjur. Tidak heran jika Ibu sangat
membanggakan obat itu. Pernah Ibu sempat menjualnya, dan tidak laku karena
namanya yang menjijikkan. Akhirnya, sisa barang dagangannya tidak dibuang,
melainkan diminumkan pada aku, Itachi, dan Ayah. Itu adalah hari paling
menyiksa bagi kami. Bayangkan kau harus meminum kotoran telinga sebanyak tiga
gelas bir dalam sehari! Membayangkannya saja membuatmu bergidik ngeri, bukan?
Aku turun dari
tempat tidurku, membasuh wajah dengan air sedingin es di kamar mandi, dan
melepaskan mantelku karena sudah merasa sangat baik. Aku turun dari lantai dua,
dan mendapati keluargaku sedang sibuk membersihkan dapur dan juga toko.
"Wah, Sang
Pemalas sudah bangun," tegur Itachi sembari mencibir. Jika kau hanya sekilas
memperhatikan, pria yang tidak lebih tampan dariku itu hanya sedang
membersihkan oven. Tetapi bukan aku namanya jika tidak jeli. Aku berani
bersumpah, aku melihat vas bunga malang dengan noda permanen itu sedang
menunggu untuk dibersihkan di sebelah oven! Melihatnya, aku hanya memutar bola
mata, karena aku tahu ia tidak akan mendengarkanku jika aku mengatakan, 'Baka
aniki, itu noda permanen.'
"Hn,"
sahutku cepat. Aku segera menyambar lap yang tergantung di sebelah penyimpanan
adonan. Dengan cekatan, aku membersihkan tempat penyimpanan yang sudah kosong
itu hingga bersih mengilap. Kosong. Aku menggigit bibir. Seharusnya hari ini
aku membeli persediaan bahan roti. Namun karena aku sakit, aku jadi tidak bisa
membelinya. Sial. Lagi-lagi aku merasa bersalah.
"Kotoran
telinga gajah, ya?" tanya Itachi yang tahu-tahu sudah berada di sebelahku.
Ia menyeringai karena menyadari aku sudah sembuh total.
Buru-buru aku
mengangguk dan segera mencari objek lain yang bisa kubersihkan. Tampaknya
tempat ini sudah bersih, sehingga aku beralih ke toko. Di sana aku melihat Ibu
dan Ayah sedang bercengkerama dengan mesranya. Tangan Ayah melingkar di
pinggang Ibu, sedangkan Ibu melingkarkan tangannya di leher Ayah. Tch.
Pemandangan manis yang membuat aku cukup muak. Tolonglah, toko ini berdinding
kaca! Seisi kota bisa melihat kemesraan kalian, Ibu, Ayah!
"Aah,
Sasuke!" kata Ibu sembari melepaskan tangannya saat ia melihatku.
"Sumimasen,"
ucapku pelan sambil berdeham. Aku hendak memutar haluan sebelum kudengar Ayah
memanggil aku.
"Sasuke, mari
kita bicara sebentar," kata Ayah. Ibu segera meninggalkan aku dan Ayah
yang kini hanya berdua di toko. Ia menarik bangku kasir, dan menyuruh aku duduk
di sana, sedangkan Ayah duduk di bangku yang satunya.
"Ada apa,
Otousan?" tanyaku ketika aku mulai meletakkan bokongku di atas bangku.
"Ada yang
mengganggu pikiranmu?" tanya Ayah langsung pada intinya. Ia menatapku
serius namun ada sebersit perhatian dan rasa simpati tergambar di kedua matanya
yang memancarkan ketegasan.
Aku menggigit bibir
dan mengalihkan pandanganku ke arah rak-rak display yang kini sudah kosong dan
bersih. Ah, tampaknya dagangan Ayah laku seperti biasanya. Tunggu. Fokus,
Sasuke.
"Tidak
juga," dustaku. Sungguh, ada yang benar-benar mengganggu pemikiranku.
Hinata. Gadis misterius yang bisa menghilang dalam waktu sepuluh detik itulah
yang selalu kupikirkan dua hari ini. Dari awal aku melihatnya, aku sudah cukup
merasa terpesona. Dan kini aku masih terpesona dan semakin penasaran akan
dirinya. Aku ingin menjumpainya sekali lagi dan menanyakan perihal
menghilangnya ia hari ini dan kemarin.
"Kau anakku
selama enam belas tahun, Sasuke. Mana mungkin aku tidak memahamimu," tukas
Ayah sedikit mulai tidak sabar, namun ia menekan jelas-jelas segala emosi yang
bisa saja meletup. Aku tahu ia bukanlah tipe laki-laki yang mudah termakan
emosi. Tetapi jangan harap kau selamat jika Uchiha Fugaku sudah mulai merasa
kesal, karena ia akan memberikanmu sepatah dua patah kata yang mampu
meruntuhkan seluruh hidupmu.
Aku menghela napas.
Ada benarnya juga perkataan Ayah. Tidak mungkin seorang Ayah tidak memahami
kondisi anaknya sendiri.
"Memangnya apa
yang membuat Ayah merasa begitu?" Bukannya menjawab, aku justru balik
bertanya.
"Kau. Tidur
larut. Jatuh sakit pada musim dingin," jawab Ayah dengan singkat.
Ya, benar. Aku
jarang tidur larut, dan aku nyaris tidak pernah jatuh sakit.
Apa lagi musim dingin! Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku mencintai musim
dingin? Kesimpulannya, jika aku mencintai musim dingin, aku akan menikmatinya,
dan tidak akan jatuh sakit. Tetapi kali ini berbeda. Sudah pasti akar dari
semua ini adalah Gadis Hantu itu. Ia yang membuatku tidur larut. Dan karena
itulah aku jatuh sakit. Ayolah, bukan karena aku takut padanya. Catat itu.
"Ada
sedikit," jawabku akhirnya, menyerah. Tak ada untungnya berbohong pada
seorang Fugaku. Ia pasti akan mengorek habis-habisan kebohonganmu, dan akan
membuatmu menyesal karena sudah berbohong padanya.
"Ceritakan,"
kata Ayah. Suaranya mulai melembut. Tunggu. Apakah ada salah satu dari kalian
yang mengharapkan Ayah membelai rambutku seperti Ibu? Kalau ada, tolong
hapuskan harapan itu, karena jelas-jelas tidak akan terkabul. Ia kaku. Sangat
kaku sekalipun aku tahu ia sangat mencintai keluarganya.
Aku merasa sedikit
gelisah memikirkan jawaban apa yang akan kulontarkan pada Ayah. Haruskah aku
menceritakan bahwa aku menjumpai seorang gadis yang menarik perhatianku, dengan
wajah memerah, lalu mengatakan kalau gadis itu membuatku terpesona hingga aku
tahu kalau ia sejenis makhluk astral yang bisa menghilang dalam waktu sepuluh
detik? Aku berani bertaruh, beginilah tanggapan Ayah: Ia akan mendengus geli,
tersenyum meremehkan dan berkata, 'Kau mabuk.' Lalu pergi begitu saja.
"Maaf Ayah,
aku tak bisa," kataku akhirnya, memutuskan.
Ia mengerutkan
kening dan memandangku dengan mata sedikit dipicingkan.
"Sudah mulai
bermain rahasia denganku?" tanya Ayah dengan nada tersinggung.
"Tidak.
Otousan tidak akan percaya dengan kata-kataku," tukasku cepat untuk
mengakhiri perbincangan. Aku segera berdiri dan berkata, "Banyak hal yang
harus aku kerjakan."
Sialnya, Ayah tidak
ingin mengakhiri perbincangan kami. Ia menarik pundakku agar segera kembali
duduk dan mendesak, "Aku akan percaya."
Terjebak. Ia sudah
memutuskan untuk percaya, dan mau tak mau aku harus menceritakannya. Tetapi aku
terlalu gengsi untuk menceritakan soal gadis pada orang tuaku. Memang sudah
seharusnya aku sudah mulai mau menceritakan tentang orang yang kukagumi, karena
aku sudah menginjak usia enam belas tahun, yang artinya masih butuh pengawasan
orang tua.
"Aa," gumamku.
Aku menggigit bibir sambil mengetuk-ngetukkan kakiku ke lantai. Akhirnya, aku
menghela napas dan mulai menceritakannya dari awal sampai akhir secara
mendetail dengan suara minim. Selama aku bercerita, Ayah memandangku serius dan
ia terlihat benar-benar menyimak tanpa sekalipun menginterupsi. Aku cukup
senang dengan sikap Ayah yang satu ini. Ia adalah pendengar yang baik, dan
tidak suka membuat sang Pembicara merasa tersinggung, kecuali jika sang
Pembicara-lah yang lebih dulu menyinggung perasaannya.
Usai ceritaku, Ayah
mengangguk-angguk mengerti. Tidak seperti perkiraanku pada emosinya, ia tidak
mengubah sedikit raut wajahnya. Hanya kedua matanya saja yang sedikit berkilat.
Aku tahu pasti arti kilatan di matanya.
"Jadi begitu.
Gadis Hantu, ya?" tanya Ayah sembari masih manggut-manggut.
"Hn,"
sahutku.
"Bercak bundar
berwarna merah di dahi. Menghilang di dataran angker, dan menghilang dalam
waktu sepuluh detik. Tetapi pipinya hangat," gumam Ayah lagi, lebih kepada
dirinya sendiri. "Ia bukan hantu, Sasuke."
Aku sedikit merasa
tertarik dengan percakapan ini. Aku mencondongkan tubuhku lebih dekat pada
Ayah, dan bertanya, "Jadi?"
"Pernah
mendengar Pegasus, atau Kuda Sembrani?" tanya Ayah padaku.
"Tentu,"
jawabku. Memang aku sering mendengar dua istilah berarti sama itu di buku
dongeng mitologi yang sering dibelikan Ayah atau Ibu untuk aku dan Itachi.
Makhluk itu adalah makhluk yang katanya hidup di zaman dewa-dewi. Sejenis kuda
dengan satu tanduk di keningnya, dan bersayap. Tunggu. Satu tanduk di
keningnya. Bercak bundar di 'kening'nya. Kurasa aku mulai mengerti.
Aku menegakkan tubuh sembari membelalakkan mata.
"Sudah
mengerti, ya?" tebak Ayah.
Tak kusangka,
Ayahku secerdas ini. Alih-alih mengatakan aku mabuk atau konyol, ia justru
menebaknya dengan tebakan irasional yang berbau dongeng dan fantasi. Aku cukup
terkejut, mengetahui Ayahku menyukai hal-hal irasional, sedangkan ia adalah
seorang rasionalis sepertiku. Dan lebih parahnya lagi, seorang Uchiha Fugaku
memiliki pengetahuan cukup banyak soal dongeng mitologi, yang kukira akan
dijauhinya. Oh. Pantas ia membelikan aku setumpuk buku dongeng. Rupanya Ayahku
ini menyukai hal-hal berbau takhayul dan khayalan.
"Yokatta,"
gumamku sembari mengangguk-angguk.
Ayah berdiri, lalu
berjalan setelah mengatakan, "Pecahkan sendiri misterimu ini. Kuberi waktu
libur selama seminggu, karena aku tak suka melihat pewaris toko roti ini
bekerja setengah-setengah."
Aku tersenyum
mendengar itu, lalu mengangguk untuk menyampaikan rasa terimakasihku.
Libu satu minggu.
Yang benar saja! Itu lebih dari cukup untuk mencari informasi tentang Gadis
Hantu itu. Lihatlah, Hinata. Sebentar lagi rahasiamu akan segera terbongkar.
-ooo-
Sepakat. Aku dan
Ayah sudah sepakat untuk tidak membeberkan rahasia besar tentang dugaan kami
seputar Gadis Hantu bernama Hinata itu. Ternyata ia adalah partner yang sangat
membantu. Tak salah jika selama ini aku mengaguminya sebagai sosok Ayah pekerja
keras yang tegas.
Aku berpamitan pada
anggota keluargaku untuk pergi ke luar. Jelas sekali niatanku kali ini, namun
hanya aku dan Ayah yang mengetahui alasan sebenarnya. Aku memakai pakaian
bepergian musim saljuku yang biasa. Namun kali ini, aku akan mengenakan sarung
tangan. Yah, akhirnya Ayah memberikanku sejumlah uang untuk membeli sarung
tangan. Hanya sepasang, oke? Dengar, hanya sepasang. Tidak ada cadangan. Namun
aku tidak peduli. Selama Ayah masih mau menjaga rahasia itu dan membantuku, aku
tidak keberatan diperlakukan tidak adil olehnya.
Kira-kira sekitar
sepuluh menit aku berjalan melintasi kota ini, namun tak sekalipun aku melihat
tanda-tanda kehadiran Hinata. Yang kujumpai justru perempuan-perempuan genit
yang rela aku nikahi tanpa status, asalkan bisa tidur denganku. Aku tidak
membalas sapaan mereka walaupun hanya sekedar berupa anggukan. Kupikir hal itu
akan membuat mereka kesal, namun justru sebaliknya. Mereka menjerit histeris.
Tch. Kurasa mereka menyukai sikap dinginku. Mungkinkah aku harus buang angin di
depan mereka dulu, baru mereka akan menghindariku?
Aku merasakan
dingin yang menusuk di tanganku, dan saat itulah aku ingat kalau aku belum
membeli sarung tangan. Dengan segera, aku memutar haluan ke toko pakaian yang
terletak tak jauh dari toko bahan kue tempat di mana aku pertama kali berjumpa dengan
Gadis Hantu itu.
Sekitar lima menit
aku sudah sampai di toko pakaian itu. Segera kuambil sarung tangan wol
sederhana berwarna coklat yang kurasa cukup hangat. Setelah membayar, aku
langsung memakainya di tempat, dan keluar dari toko itu untuk mencari sosok
Hinata lagi. Jika aku berjalan ke sebelah kanan toko pakaian, aku akan melewati
toko bahan kue itu.
Dalam hati aku
bertanya-tanya, apakah Hinata ada di dalam sana, sehingga langkah kakiku pun
bergerak ke toko bahan kue itu. Seperti biasa, yang menyapaku pertama kali
adalah aroma nikmat yang menguar dari beberapa ceri atau pun gula-gula yang
memenuhi sebuah tong di dekat kasir.
"Ohayou,
Sasuke! Kudengar kemarin kau sakit, ya?" sapa Nenek Chiyo sembari
tersenyum ramah.
Aku berjalan
mendekatinya, dan tanpa membalas sapaannya, aku bertanya, "Chiyo-baasan,
apakah gadis yang dua hari yang datang, hari ini juga ke mari?"
Nenek Chiyo
mengerutkan keningnya, lalu bertanya, "Siapa yang kau bicarakan, Anak
Muda?"
Ah, benar. Pasti
banyak gadis yang datang kemari dua hari yang lalu. Bodoh sekali aku! Aku
meralat pertanyaanku, "Gadis dengan rok mantel berwarna merah muda,
kulitnya putih seputih salju, dan rambut panjangnya berwarna biru tua."
Lawan bicaraku
tampak mengingat-ngingat. Kurasa ia mulai menggabung-gabungkan ciri-ciri yang
kuucapkan di dalam otaknya. Lalu ia tersenyum dan terkekeh sambil berkata,
"Maksudmu Hinata?"
Ia tahu namanya!
Nenek Chiyo mengetahui namanya! Jika tahu Nenek Tua ini mengetahui namanya, aku
tak perlu repot-repot mengeluarkan suaraku banyak-banyak, 'kan? Tch. Aku banyak
bicara hanya untuk menjelaskan ciri-ciri orang yang aku dan Nenek Chiyo sudah
tahu namanya.
"Aa,"
sahutku singkat sambil mengangguk dua kali.
"Ya, tadi ia
ke mari. Tetapi hanya membeli coklat cair dan gula-gula," sahut Nenek
Chiyo sambil tertawa-tawa.
Tolonglah! Aku
tidak membutuhkan informasi tentang apa yang dibelinya!
"Lalu?"
tanyaku sedikit tidak sabar. Jantungku berdegup cukup kencang karena menahan
emosi.
"Ia sudah
pulang. Hinata bilang, ia ingin mampir ke toko bunga," jawab Nenek Chiyo
lagi dengan wajah masih berseri-seri.
Aku mengangguk
mengerti. 'Toko Bunga'. Hanya ada satu toko bunga di kota ini. Toko Bunga
Yamanaka! Ya, pasti di sana sekarang! Aku segera berbalik badan, dan menyerukan
terimakasih sembari berjalan cepat.
Di depan pintu,
sayup-sayup aku mendengar Nenek Chiyo berseru, "Perjuangkan cintamu,
Sasuke!"
Dan seketika,
wajahku memanas.
-ooo-
Aku sudah nyaris
sampai di toko bunga milik keluarga Yamanaka. Dengan tergesa-gesa, aku berlari
sangat cepat. Lari membuat tubuhku cukup menghangat di antara udara dingin ini.
Aku berharap aku tidak sampai berkeringat, karena aku ngeri membayangkan keringatku
membeku di pori-pori.
Ya. Satu toko laki
kulewati, aku akan segera sampai. Akhirnya. Akhirnya aku sudah berdiri di depan
pintu toko bunga itu. Aku memasuki bangunan yang luasnya hampir menyerupai toko
roti keluargaku itu. Deretan pot-pot dan berbagai bunga yang menggantung-lah
yang menyambutku di sini. Kepalaku mulai celingukan untuk mencari sosok Hinata,
namun sialnya, yang kujumpai adalah gadis berambut pirang dengan mata berwarna
biru. Ia menghampiriku dengan wajah merona.
"Sasuke-kun!"
panggilnya sambil berlari ke hadapanku.
Aku memutar bola
mata sambil mendengus kesal. Ia mengajakku berbicara, namun tak sedikitpun
kusimak, karena aku terus-terusan celingukan mencari gadis berambut indigo itu.
"Sasuke-kun!
Kau tidak mendengarkanku, ya?" tanya gadis bernama Ino itu sambil
memberenggut.
Aku mendengus lagu
dan berkata tegas, "Tolong minggir. Aku tak punya banyak waktu."
Dengan kesal, Ino
berjalan kembali ke kasir, dan saat itulah aku menemukan Hinata tengah berdiri
di depan kasir dengan sebuket bunga berwarna putih di pelukannya, dan sekantong
plastik di tangan kanannya. Ia sepertinya habis membayar bunga yang dibelinya,
karena ia membungkukkan badan dan mulai berbalik ke pintu.
Aku segera berdiri
di tepat di ambang pintu, untuk memblokade akses keluar-masuk toko itu. Hinata
sampai di depanku. Ia memandangku dengan tercengang, sementara itu aku
mengangkat ujung bibir sebelah kiriku.
"U-Uchiha-san?"
bisik Hinata tanpa sekalipun mengedipkan mata ungu mudanya.
Sedikit membungkuk,
aku berbisik di sebelah telinganya, "Tak akan kubiarkan kau menghilang
lagi."
To be continued.
-Anonymous hyuuga-
Copied from
Facebook-SasuHina Fanfiction