Hallo Minna-san, Selamat Datang di Blog saya yang agak aneh ini. Semoga betah berlama-lama di sini!! Hehehe Salam Kenal!
Disclaimer
Welcome to my blog. Before anything else please follow these rules : No ripping, spamming, and any type of childish acts. Respect is a must. Best-viewed with screen resolutions 1024x768. Enjoy your stay and have fun!
put your site stats here
bold,italic,underlined
Navigations

Profile Blog Links Joined Credits
I am ME
Hohoho.. Konnichiwa, Erika-desu ne! I'am 15 years old, and now I go to Magelang 1 State Junior High School. I'm Otaku! Birthday? Oh 22nd of October! xD. That's all, thanks. :))

Doing...
Feeling : Just so so
Eating : Nasi Goreng!
Doing : Bernafas dan berkedip, juga berdoa. :)
Watching : Anime!!
Listening to : I don't know-_-

Tagboard
Shout mix or cbox? abything just decide for yourself. width="210px"for sure ;)
Daily Reads
Cynna | Cynna | Cynna | Cynna | Cynna

Rotten Things
Februari 2014 |

Konnichiwa, Watashiwa Erika-desu. Yoroshiku!

Music
Music Here!

Pegasus Part 2
Written at Sabtu, 15 Februari 2014 | back to top

P E G A S U S Author : Anymous Hyuuga | 2

Disclaimer:
Masashi Kishimoto, I don't claim Naruto ^^
Warning:
Typo, OOC, AU, Stupid Fantasy, Another utility of Gelel Stone, Dark Naruto
Pairing:
Sasuke U & Hinata H
.
.
.
So this is it!
Anonymous Hyuuga
 presents
.
.
.
"PEGASUS"
Part Two
Aku memutuskan untuk kembali ke rumah, setelah sejenak aku berdiam diri memandangi kekosongan di hadapanku. Segera setelah aku menghentakkan kakiku di depan pintu toko, menggantung mantel, dan melepaskan sepatu botku, aku berjalan ke lantai atas tempat di mana rumah kami berada. Tangga yang kini aku naiki berujung di ruang makan keluarga kami, sehingga spontan setelah aku sampai di lantai dua, aku bisa melihat anggota keluargaku yang sedang bersiap untuk makan siang.
"Sasuke, ayo makan," kata Ibu sembari meletakkan sepanci sup miso di atas meja makan.
"Arigatou, Okaasan. Aku tidak lapar," sahutku sambil tersenyum hambar dan segera berjalan ke kamarku dan menutup pintu.
Aku memperhatikan seisi kamarku. Sejenak perasaanku hampa karena gadis itu. Menyebalkan. Kami bahkan belum sempat melakukan percakapan berarti, dan hanya saling bertukar nama. Tetapi ia segera menghilang begitu saja, dan membuat perutku sedikit bergejolak saat menyadarinya. Sudah begitu, ia dengan seenaknya mampir ke dalam otakku dan membuat aku terus-terusan memikirkannya.
Aneh. Aku merasakan sekujur tubuhku dingin. Tidak. Bukan karena ini musim dingin. Biasanya, sekalipun musim dingin, kamarku masih akan terasa cukup hangat. Namun kali ini berbeda. Kakiku terasa gemetar dan bibirku tidak berhenti bergerak. Kh. Dengan gusar aku menyambar mantel bulu yang kugantung di dekat lemari. Aku mengancingkan mantel itu hingga nyaris menyentuh bibir—karena kerah mantel itu luar biasa tingginya.
Sudah tahu merasa kedinginan, aku tidak ada niat sedikitpun untuk naik ke tempat tidur dan bergelung di bawah selimut tebalku. Alih-alih berbuat demikian, aku justru naik ke ambang jendela dan duduk bersila di sana. Kupandangi lingkungan sekitarku yang dipenuhi warna putih salju. Sesekali aku menghela napas dan menggosok-gosokkan dua telapak tanganku. Sial. Sang Pecinta Musim Dingin yang Tampan ini kedinginan di musim dingin. Oke.
Beberapa pemikiran mulai menerjang otakku. Mulai dari gadis itu yang kupandangi di toko bahan kue. Gadis itu yang berjalan ke lahan kosong angker dan menghilang. Hingga perkenalan singkat kami sebelum ia menghilang dalam waktu sepuluh detik tanpa sedikit pun aku melihatnya.
Seharusnya aku tidak perlu memikirkan itu, bukan? Siapa tahu ia berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah pandanganku, sehingga ketika aku berbalik untuk melihatnya, ia sudah tidak ada. Begitu, 'kan? Tidak mungkin seperti itu. Demi Kuku Jari Uchiha Fugaku, aku sudah memastikan tubuhku untuk berputar tiga ratus enam puluh derajat, namun aku tak juga melihat bulatan bulu di topinya!
Aku mengacak-acak rambutku. Baru kali ini ada pemikiran absurd yang menguasai kepalaku. Menjajah seluruh tenagaku untuk terus menerus memikirkannya, dan mencari kemungkinan-kemungkinan yang rasional. Namun sia-sia, gadis bernama Hinata itu sudah membuat aku menjadi seorang irasionalis.
Kurasakan kepalaku semakin terasa berat dan sedikit sakit. Aku pun memutuskan untuk berbaring sebentar dan meredakan sakitnya. Dengan cepat, aku segera terjun dari ambang jendela dan mendarat di kasur dengan sempurna. Kunyamankan posisi berbaringku, dan aku menarik selimut tebal itu hingga ke ujung kepalaku. Demi Bantal Yang Kutiduri, aku sudah memakai berlapis-lapis kain tebal, tetapi tak sedikitpun aku merasa hangat!
Dengan tubuh bergetar hebat karena menggigil, aku semakin menggelung hingga, aku berani bertaruh, lututku menyentuh dahiku. Lama aku tak bisa mendapatkan kehangatan, kepalaku semakin terasa sakit dan aku merasakan dunia seperti berputar, dan terus berputar hingga aku kehilangan kesadaran.
-ooo-
"Sasuke? Bangun, Nak." Sayup-sayup aku mendengar suara Ibu dari kejauhan. Aku mengerang pelan dan segera membuka mata ketika kurasakan rasa dingin mulai kembali menyerangku.
Setelah membuka mata, aku melihat Ibu duduk di sebelah kananku sambil memandangku dengan penuh rasa khawatir. Aku berusaha berbicara namun yang terdengar hanyalah geraman . Suaraku serak.
Ibu menyentuhkan tangannya di dahiku, dan berkata, "Tubuhmu panas sekali, Sayang."
Aku menggerakkan kepalaku untuk mengusir tangan Ibu sembari mengerang. Kh. Menyusahkan! Mengapa aku harus jatuh sakit di saat seperti ini?
"Okaasan, a-aku masih bisa bekerja," kataku dengan susah payah sembari meposisikan diriku untuk duduk. Ah, aku merasa seperti pria tua tampan yang kesusahan untuk duduk.
"Iie," tukas Ibu dengan tegas. Ia menyentuhkan tangan kirinya pada belakang kepalaku, dan meletakkan tangan kanannya di pinggang kiriku untuk mengembalikan posisiku yang semula berbaring. Sembari menggerutu, aku akhirnya menurut saja karena kepalaku memang sangat sakit. "Mengapa bisa begini?" tanya Ibu lagi sembari membelai rambutku dengan sayang.
Ibu, tolong jangan buat anakmu ini menjadi manja! Lihatlah ekspresiku. Aku sedang menahan keinginan untuk berbaring di pangkuannya. Untung pertahanan diriku cukup kuat sehingga dengan satu tarikan napas aku sudah bisa menghilangkan keinginan itu.
Tunggu. Tadi apa yang ditanyakan Ibu? 'Mengapa bisa begini'? Ah, benar. 'Mengapa bisa begini?' Mengapa aku bisa tiba-tiba jatuh sakit? Jangan bilang ini karena Gadis Hantu itu? Tolonglah, kalau memang benar ia yang membuat aku ketakutan sampai jatuh sakit, jangan sebut aku laki-laki. Tidak. Pasti bukan karena Hinata. Ini pasti karena semalam aku bukannya langsung tidur tetapi justru berdiam diri di ambang jendela, dan bangun pada pagi buta. Ya, pasti karena aku tidur larut malam.
"Tidur larut," jawabku saat sudah merasa yakin karena apa.
Ibu mendesah kesal. Ia memandangku galak—tetapi tidak bisa membuat aku menciut seperti jika Ayah yang memandang galak. Jujur, wajah galak Ibu masih bisa ditoleransi bahkan oleh anak berusia tiga tahun sekali pun. Memang dasar ia sangat cantik. Sama halnya denganku yang tampan ini. Aku sangat yakin jika aku sedang marah, para wanita masih akan terus mengejar-ngejarku. Aku yakin itu.
"Malam ini, tidak ada tidur larut!" ujar Ibu tegas. Ia berdiri dari tempat tidurku dan berjalan pergi setelah mengatakan, "Akan Haha buatkan 'Kotoran telinga gajah',"
Aku meneguk ludah saat Ibu mengatakan itu. Sungguh, itu bukan benar-benar 'kotoran telinga gajah', tetapi merupakan obat racikan Ibu sendiri yang warnanya hijau sedikit kuning—seperti ingus—dan baunya sangat busuk dengan rasa pahit yang memuakkan. Saat aku bertanya Ibu membuatnya dengan apa, Ibu hanya tersenyum lebar dan tidak menjawab. Memang obat itu sangatlah mujarab—kau bisa sembuh dari demammu dalam waktu lima jam—tetapi, siapa gerangan yang mau meminum obat menjijikkan itu?
Aku melirik jam dinding dan sedikit terhenyak saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima belas. Oh, aku merutuk pada diriku sendiri, mengapa aku harus sakit dalam keadaan seperti ini? Seharusnya aku sudah di dapur untuk membantu Ayah memanggang roti, tetapi aku justru enak-enakkan tidur di saat semuanya bekerja. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan jenis kelaminku.
Aku merasa tidak seperti laki-laki—sekalipun wajahku sangat amat tampan.
-ooo-
Segera aku terbangun dari tidur ketika kurasakan tubuhku diguncang. Demi Tuhan aku yakin mimpi burukku sudah datang. Dan benar. Saat aku membuka mata, aku melihat Ibu sudah membawa gelas ocha sembari tersenyum padaku. Aku tidak dapat mengartikan senyuman itu.
Dengan enggan aku beranjak duduk dan segera meraih gelas ocha yang dipegang Ibu. Aku meneguk ludah ketika cairan berwarna hijau yang sedikit kental itu bergerak-gerak menjijikkan. Aku nyaris muntah saat menghirup baunya yang seperti kotoran telinga. Demi kesembuhan, batinku. Aku memejamkan mata, menutup hidung dengan tangan kiri, dan mengernyit jijik ketika aku mulai meminum 'kotoran telinga gajah'.
Baru separuh gelas aku meminumnya, aku sudah tidak tahan dan terbatuk-batuk karena nyaris muntah.
"Akhu tidhak khuat, Okhaasan," ujarku sembari menyodorkan kembali gelas ocha itu pada Ibu.
"Harus dihabiskan," tegas Ibu tanpa tanggung-tanggung. Melihat aku yang tidak merespon, Ibu segera merebut gelas itu dan membuat aku meminumnya sampai habis dengan paksaan. Aku membelalakkan mata karena tidak sempat menutup hidung, dan mau tak mau menelannya sampai tandas. Lagi-lagi aku terbatuk-batuk. Aku yakin wajahku sudah berubah hijau sekarang. "Anak pintar. Sekarang tidurlah," ujar Ibu sambil tersenyum. Ia membaringkan aku, menyelimutiku, dan mengecup dahiku dengan lembut.
Aku membalas senyumannya. "Arigatou, Okaasan," bisikku sambil memejamkan mata dan mulai kembali terbawa ke alam tidur.
-ooo-
Ketika aku terbangun, jam dinding sudah menunjuk pukul delapan lebih sedikit. Aku sudah merasa luar biasa lebih baik. Ini pasti karena 'Kotoran telinga gajah'. Obat menjijikkan itu memang sangatlah teramat manjur. Tidak heran jika Ibu sangat membanggakan obat itu. Pernah Ibu sempat menjualnya, dan tidak laku karena namanya yang menjijikkan. Akhirnya, sisa barang dagangannya tidak dibuang, melainkan diminumkan pada aku, Itachi, dan Ayah. Itu adalah hari paling menyiksa bagi kami. Bayangkan kau harus meminum kotoran telinga sebanyak tiga gelas bir dalam sehari! Membayangkannya saja membuatmu bergidik ngeri, bukan?
Aku turun dari tempat tidurku, membasuh wajah dengan air sedingin es di kamar mandi, dan melepaskan mantelku karena sudah merasa sangat baik. Aku turun dari lantai dua, dan mendapati keluargaku sedang sibuk membersihkan dapur dan juga toko.
"Wah, Sang Pemalas sudah bangun," tegur Itachi sembari mencibir. Jika kau hanya sekilas memperhatikan, pria yang tidak lebih tampan dariku itu hanya sedang membersihkan oven. Tetapi bukan aku namanya jika tidak jeli. Aku berani bersumpah, aku melihat vas bunga malang dengan noda permanen itu sedang menunggu untuk dibersihkan di sebelah oven! Melihatnya, aku hanya memutar bola mata, karena aku tahu ia tidak akan mendengarkanku jika aku mengatakan, 'Baka aniki, itu noda permanen.'
"Hn," sahutku cepat. Aku segera menyambar lap yang tergantung di sebelah penyimpanan adonan. Dengan cekatan, aku membersihkan tempat penyimpanan yang sudah kosong itu hingga bersih mengilap. Kosong. Aku menggigit bibir. Seharusnya hari ini aku membeli persediaan bahan roti. Namun karena aku sakit, aku jadi tidak bisa membelinya. Sial. Lagi-lagi aku merasa bersalah.
"Kotoran telinga gajah, ya?" tanya Itachi yang tahu-tahu sudah berada di sebelahku. Ia menyeringai karena menyadari aku sudah sembuh total.
Buru-buru aku mengangguk dan segera mencari objek lain yang bisa kubersihkan. Tampaknya tempat ini sudah bersih, sehingga aku beralih ke toko. Di sana aku melihat Ibu dan Ayah sedang bercengkerama dengan mesranya. Tangan Ayah melingkar di pinggang Ibu, sedangkan Ibu melingkarkan tangannya di leher Ayah. Tch. Pemandangan manis yang membuat aku cukup muak. Tolonglah, toko ini berdinding kaca! Seisi kota bisa melihat kemesraan kalian, Ibu, Ayah!
"Aah, Sasuke!" kata Ibu sembari melepaskan tangannya saat ia melihatku.
"Sumimasen," ucapku pelan sambil berdeham. Aku hendak memutar haluan sebelum kudengar Ayah memanggil aku.
"Sasuke, mari kita bicara sebentar," kata Ayah. Ibu segera meninggalkan aku dan Ayah yang kini hanya berdua di toko. Ia menarik bangku kasir, dan menyuruh aku duduk di sana, sedangkan Ayah duduk di bangku yang satunya.
"Ada apa, Otousan?" tanyaku ketika aku mulai meletakkan bokongku di atas bangku.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ayah langsung pada intinya. Ia menatapku serius namun ada sebersit perhatian dan rasa simpati tergambar di kedua matanya yang memancarkan ketegasan.
Aku menggigit bibir dan mengalihkan pandanganku ke arah rak-rak display yang kini sudah kosong dan bersih. Ah, tampaknya dagangan Ayah laku seperti biasanya. Tunggu. Fokus, Sasuke.
"Tidak juga," dustaku. Sungguh, ada yang benar-benar mengganggu pemikiranku. Hinata. Gadis misterius yang bisa menghilang dalam waktu sepuluh detik itulah yang selalu kupikirkan dua hari ini. Dari awal aku melihatnya, aku sudah cukup merasa terpesona. Dan kini aku masih terpesona dan semakin penasaran akan dirinya. Aku ingin menjumpainya sekali lagi dan menanyakan perihal menghilangnya ia hari ini dan kemarin.
"Kau anakku selama enam belas tahun, Sasuke. Mana mungkin aku tidak memahamimu," tukas Ayah sedikit mulai tidak sabar, namun ia menekan jelas-jelas segala emosi yang bisa saja meletup. Aku tahu ia bukanlah tipe laki-laki yang mudah termakan emosi. Tetapi jangan harap kau selamat jika Uchiha Fugaku sudah mulai merasa kesal, karena ia akan memberikanmu sepatah dua patah kata yang mampu meruntuhkan seluruh hidupmu.
Aku menghela napas. Ada benarnya juga perkataan Ayah. Tidak mungkin seorang Ayah tidak memahami kondisi anaknya sendiri.
"Memangnya apa yang membuat Ayah merasa begitu?" Bukannya menjawab, aku justru balik bertanya.
"Kau. Tidur larut. Jatuh sakit pada musim dingin," jawab Ayah dengan singkat.
Ya, benar. Aku jarang tidur larut, dan aku nyaris tidak pernah jatuh sakit. Apa lagi musim dingin! Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku mencintai musim dingin? Kesimpulannya, jika aku mencintai musim dingin, aku akan menikmatinya, dan tidak akan jatuh sakit. Tetapi kali ini berbeda. Sudah pasti akar dari semua ini adalah Gadis Hantu itu. Ia yang membuatku tidur larut. Dan karena itulah aku jatuh sakit. Ayolah, bukan karena aku takut padanya. Catat itu.
"Ada sedikit," jawabku akhirnya, menyerah. Tak ada untungnya berbohong pada seorang Fugaku. Ia pasti akan mengorek habis-habisan kebohonganmu, dan akan membuatmu menyesal karena sudah berbohong padanya.
"Ceritakan," kata Ayah. Suaranya mulai melembut. Tunggu. Apakah ada salah satu dari kalian yang mengharapkan Ayah membelai rambutku seperti Ibu? Kalau ada, tolong hapuskan harapan itu, karena jelas-jelas tidak akan terkabul. Ia kaku. Sangat kaku sekalipun aku tahu ia sangat mencintai keluarganya.
Aku merasa sedikit gelisah memikirkan jawaban apa yang akan kulontarkan pada Ayah. Haruskah aku menceritakan bahwa aku menjumpai seorang gadis yang menarik perhatianku, dengan wajah memerah, lalu mengatakan kalau gadis itu membuatku terpesona hingga aku tahu kalau ia sejenis makhluk astral yang bisa menghilang dalam waktu sepuluh detik? Aku berani bertaruh, beginilah tanggapan Ayah: Ia akan mendengus geli, tersenyum meremehkan dan berkata, 'Kau mabuk.' Lalu pergi begitu saja.
"Maaf Ayah, aku tak bisa," kataku akhirnya, memutuskan.
Ia mengerutkan kening dan memandangku dengan mata sedikit dipicingkan.
"Sudah mulai bermain rahasia denganku?" tanya Ayah dengan nada tersinggung.
"Tidak. Otousan tidak akan percaya dengan kata-kataku," tukasku cepat untuk mengakhiri perbincangan. Aku segera berdiri dan berkata, "Banyak hal yang harus aku kerjakan."
Sialnya, Ayah tidak ingin mengakhiri perbincangan kami. Ia menarik pundakku agar segera kembali duduk dan mendesak, "Aku akan percaya."
Terjebak. Ia sudah memutuskan untuk percaya, dan mau tak mau aku harus menceritakannya. Tetapi aku terlalu gengsi untuk menceritakan soal gadis pada orang tuaku. Memang sudah seharusnya aku sudah mulai mau menceritakan tentang orang yang kukagumi, karena aku sudah menginjak usia enam belas tahun, yang artinya masih butuh pengawasan orang tua.
"Aa," gumamku. Aku menggigit bibir sambil mengetuk-ngetukkan kakiku ke lantai. Akhirnya, aku menghela napas dan mulai menceritakannya dari awal sampai akhir secara mendetail dengan suara minim. Selama aku bercerita, Ayah memandangku serius dan ia terlihat benar-benar menyimak tanpa sekalipun menginterupsi. Aku cukup senang dengan sikap Ayah yang satu ini. Ia adalah pendengar yang baik, dan tidak suka membuat sang Pembicara merasa tersinggung, kecuali jika sang Pembicara-lah yang lebih dulu menyinggung perasaannya.
Usai ceritaku, Ayah mengangguk-angguk mengerti. Tidak seperti perkiraanku pada emosinya, ia tidak mengubah sedikit raut wajahnya. Hanya kedua matanya saja yang sedikit berkilat. Aku tahu pasti arti kilatan di matanya.
"Jadi begitu. Gadis Hantu, ya?" tanya Ayah sembari masih manggut-manggut.
"Hn," sahutku.
"Bercak bundar berwarna merah di dahi. Menghilang di dataran angker, dan menghilang dalam waktu sepuluh detik. Tetapi pipinya hangat," gumam Ayah lagi, lebih kepada dirinya sendiri. "Ia bukan hantu, Sasuke."
Aku sedikit merasa tertarik dengan percakapan ini. Aku mencondongkan tubuhku lebih dekat pada Ayah, dan bertanya, "Jadi?"
"Pernah mendengar Pegasus, atau Kuda Sembrani?" tanya Ayah padaku.
"Tentu," jawabku. Memang aku sering mendengar dua istilah berarti sama itu di buku dongeng mitologi yang sering dibelikan Ayah atau Ibu untuk aku dan Itachi. Makhluk itu adalah makhluk yang katanya hidup di zaman dewa-dewi. Sejenis kuda dengan satu tanduk di keningnya, dan bersayap. Tunggu. Satu tanduk di keningnya. Bercak bundar di 'kening'nya. Kurasa aku mulai mengerti. Aku menegakkan tubuh sembari membelalakkan mata.
"Sudah mengerti, ya?" tebak Ayah.
Tak kusangka, Ayahku secerdas ini. Alih-alih mengatakan aku mabuk atau konyol, ia justru menebaknya dengan tebakan irasional yang berbau dongeng dan fantasi. Aku cukup terkejut, mengetahui Ayahku menyukai hal-hal irasional, sedangkan ia adalah seorang rasionalis sepertiku. Dan lebih parahnya lagi, seorang Uchiha Fugaku memiliki pengetahuan cukup banyak soal dongeng mitologi, yang kukira akan dijauhinya. Oh. Pantas ia membelikan aku setumpuk buku dongeng. Rupanya Ayahku ini menyukai hal-hal berbau takhayul dan khayalan.
"Yokatta," gumamku sembari mengangguk-angguk.
Ayah berdiri, lalu berjalan setelah mengatakan, "Pecahkan sendiri misterimu ini. Kuberi waktu libur selama seminggu, karena aku tak suka melihat pewaris toko roti ini bekerja setengah-setengah."
Aku tersenyum mendengar itu, lalu mengangguk untuk menyampaikan rasa terimakasihku.
Libu satu minggu. Yang benar saja! Itu lebih dari cukup untuk mencari informasi tentang Gadis Hantu itu. Lihatlah, Hinata. Sebentar lagi rahasiamu akan segera terbongkar.
-ooo-
Sepakat. Aku dan Ayah sudah sepakat untuk tidak membeberkan rahasia besar tentang dugaan kami seputar Gadis Hantu bernama Hinata itu. Ternyata ia adalah partner yang sangat membantu. Tak salah jika selama ini aku mengaguminya sebagai sosok Ayah pekerja keras yang tegas.
Aku berpamitan pada anggota keluargaku untuk pergi ke luar. Jelas sekali niatanku kali ini, namun hanya aku dan Ayah yang mengetahui alasan sebenarnya. Aku memakai pakaian bepergian musim saljuku yang biasa. Namun kali ini, aku akan mengenakan sarung tangan. Yah, akhirnya Ayah memberikanku sejumlah uang untuk membeli sarung tangan. Hanya sepasang, oke? Dengar, hanya sepasang. Tidak ada cadangan. Namun aku tidak peduli. Selama Ayah masih mau menjaga rahasia itu dan membantuku, aku tidak keberatan diperlakukan tidak adil olehnya.
Kira-kira sekitar sepuluh menit aku berjalan melintasi kota ini, namun tak sekalipun aku melihat tanda-tanda kehadiran Hinata. Yang kujumpai justru perempuan-perempuan genit yang rela aku nikahi tanpa status, asalkan bisa tidur denganku. Aku tidak membalas sapaan mereka walaupun hanya sekedar berupa anggukan. Kupikir hal itu akan membuat mereka kesal, namun justru sebaliknya. Mereka menjerit histeris. Tch. Kurasa mereka menyukai sikap dinginku. Mungkinkah aku harus buang angin di depan mereka dulu, baru mereka akan menghindariku?
Aku merasakan dingin yang menusuk di tanganku, dan saat itulah aku ingat kalau aku belum membeli sarung tangan. Dengan segera, aku memutar haluan ke toko pakaian yang terletak tak jauh dari toko bahan kue tempat di mana aku pertama kali berjumpa dengan Gadis Hantu itu.
Sekitar lima menit aku sudah sampai di toko pakaian itu. Segera kuambil sarung tangan wol sederhana berwarna coklat yang kurasa cukup hangat. Setelah membayar, aku langsung memakainya di tempat, dan keluar dari toko itu untuk mencari sosok Hinata lagi. Jika aku berjalan ke sebelah kanan toko pakaian, aku akan melewati toko bahan kue itu.
Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah Hinata ada di dalam sana, sehingga langkah kakiku pun bergerak ke toko bahan kue itu. Seperti biasa, yang menyapaku pertama kali adalah aroma nikmat yang menguar dari beberapa ceri atau pun gula-gula yang memenuhi sebuah tong di dekat kasir.
"Ohayou, Sasuke! Kudengar kemarin kau sakit, ya?" sapa Nenek Chiyo sembari tersenyum ramah.
Aku berjalan mendekatinya, dan tanpa membalas sapaannya, aku bertanya, "Chiyo-baasan, apakah gadis yang dua hari yang datang, hari ini juga ke mari?"
Nenek Chiyo mengerutkan keningnya, lalu bertanya, "Siapa yang kau bicarakan, Anak Muda?"
Ah, benar. Pasti banyak gadis yang datang kemari dua hari yang lalu. Bodoh sekali aku! Aku meralat pertanyaanku, "Gadis dengan rok mantel berwarna merah muda, kulitnya putih seputih salju, dan rambut panjangnya berwarna biru tua."
Lawan bicaraku tampak mengingat-ngingat. Kurasa ia mulai menggabung-gabungkan ciri-ciri yang kuucapkan di dalam otaknya. Lalu ia tersenyum dan terkekeh sambil berkata, "Maksudmu Hinata?"
Ia tahu namanya! Nenek Chiyo mengetahui namanya! Jika tahu Nenek Tua ini mengetahui namanya, aku tak perlu repot-repot mengeluarkan suaraku banyak-banyak, 'kan? Tch. Aku banyak bicara hanya untuk menjelaskan ciri-ciri orang yang aku dan Nenek Chiyo sudah tahu namanya.
"Aa," sahutku singkat sambil mengangguk dua kali.
"Ya, tadi ia ke mari. Tetapi hanya membeli coklat cair dan gula-gula," sahut Nenek Chiyo sambil tertawa-tawa.
Tolonglah! Aku tidak membutuhkan informasi tentang apa yang dibelinya!
"Lalu?" tanyaku sedikit tidak sabar. Jantungku berdegup cukup kencang karena menahan emosi.
"Ia sudah pulang. Hinata bilang, ia ingin mampir ke toko bunga," jawab Nenek Chiyo lagi dengan wajah masih berseri-seri.
Aku mengangguk mengerti. 'Toko Bunga'. Hanya ada satu toko bunga di kota ini. Toko Bunga Yamanaka! Ya, pasti di sana sekarang! Aku segera berbalik badan, dan menyerukan terimakasih sembari berjalan cepat.
Di depan pintu, sayup-sayup aku mendengar Nenek Chiyo berseru, "Perjuangkan cintamu, Sasuke!"
Dan seketika, wajahku memanas.
-ooo-
Aku sudah nyaris sampai di toko bunga milik keluarga Yamanaka. Dengan tergesa-gesa, aku berlari sangat cepat. Lari membuat tubuhku cukup menghangat di antara udara dingin ini. Aku berharap aku tidak sampai berkeringat, karena aku ngeri membayangkan keringatku membeku di pori-pori.
Ya. Satu toko laki kulewati, aku akan segera sampai. Akhirnya. Akhirnya aku sudah berdiri di depan pintu toko bunga itu. Aku memasuki bangunan yang luasnya hampir menyerupai toko roti keluargaku itu. Deretan pot-pot dan berbagai bunga yang menggantung-lah yang menyambutku di sini. Kepalaku mulai celingukan untuk mencari sosok Hinata, namun sialnya, yang kujumpai adalah gadis berambut pirang dengan mata berwarna biru. Ia menghampiriku dengan wajah merona.
"Sasuke-kun!" panggilnya sambil berlari ke hadapanku.
Aku memutar bola mata sambil mendengus kesal. Ia mengajakku berbicara, namun tak sedikitpun kusimak, karena aku terus-terusan celingukan mencari gadis berambut indigo itu.
"Sasuke-kun! Kau tidak mendengarkanku, ya?" tanya gadis bernama Ino itu sambil memberenggut.
Aku mendengus lagu dan berkata tegas, "Tolong minggir. Aku tak punya banyak waktu."
Dengan kesal, Ino berjalan kembali ke kasir, dan saat itulah aku menemukan Hinata tengah berdiri di depan kasir dengan sebuket bunga berwarna putih di pelukannya, dan sekantong plastik di tangan kanannya. Ia sepertinya habis membayar bunga yang dibelinya, karena ia membungkukkan badan dan mulai berbalik ke pintu.
Aku segera berdiri di tepat di ambang pintu, untuk memblokade akses keluar-masuk toko itu. Hinata sampai di depanku. Ia memandangku dengan tercengang, sementara itu aku mengangkat ujung bibir sebelah kiriku.
"U-Uchiha-san?" bisik Hinata tanpa sekalipun mengedipkan mata ungu mudanya.
Sedikit membungkuk, aku berbisik di sebelah telinganya, "Tak akan kubiarkan kau menghilang lagi."

To be continued.


-Anonymous hyuuga-


Copied from Facebook-SasuHina Fanfiction