P E G A S U S Author : Anymous Hyuuga | 2
Disclaimer:
Masashi Kishimoto, I don't claim Naruto ^^
Warning:
Typo, OOC, AU,
Stupid Fantasy, Another utility of Gelel Stone, Dark Naruto
Pairing:
Sasuke U & Hinata H
.
.
.
So this is it!
Anonymous Hyuuga presents
.
.
.
"PEGASUS"
Part Two
Aku memutuskan
untuk kembali ke rumah, setelah sejenak aku berdiam diri memandangi kekosongan
di hadapanku. Segera setelah aku menghentakkan kakiku di depan pintu toko,
menggantung mantel, dan melepaskan sepatu botku, aku berjalan ke lantai atas
tempat di mana rumah kami berada. Tangga yang kini aku naiki berujung di ruang
makan keluarga kami, sehingga spontan setelah aku sampai di lantai dua, aku
bisa melihat anggota keluargaku yang sedang bersiap untuk makan siang.
"Sasuke, ayo makan,"
kata Ibu sembari meletakkan sepanci sup miso di atas meja makan.
"Arigatou,
Okaasan. Aku tidak lapar," sahutku sambil tersenyum hambar dan segera
berjalan ke kamarku dan menutup pintu.
Aku memperhatikan
seisi kamarku. Sejenak perasaanku hampa karena gadis itu. Menyebalkan. Kami
bahkan belum sempat melakukan percakapan berarti, dan hanya saling bertukar
nama. Tetapi ia segera menghilang begitu saja, dan membuat perutku sedikit
bergejolak saat menyadarinya. Sudah begitu, ia dengan seenaknya mampir ke dalam
otakku dan membuat aku terus-terusan memikirkannya.
Aneh. Aku merasakan
sekujur tubuhku dingin. Tidak. Bukan karena ini musim dingin. Biasanya,
sekalipun musim dingin, kamarku masih akan terasa cukup hangat. Namun kali ini
berbeda. Kakiku terasa gemetar dan bibirku tidak berhenti bergerak. Kh. Dengan
gusar aku menyambar mantel bulu yang kugantung di dekat lemari. Aku
mengancingkan mantel itu hingga nyaris menyentuh bibir—karena kerah mantel itu
luar biasa tingginya.
Sudah tahu merasa
kedinginan, aku tidak ada niat sedikitpun untuk naik ke tempat tidur dan
bergelung di bawah selimut tebalku. Alih-alih berbuat demikian, aku justru naik
ke ambang jendela dan duduk bersila di sana. Kupandangi lingkungan sekitarku
yang dipenuhi warna putih salju. Sesekali aku menghela napas dan
menggosok-gosokkan dua telapak tanganku. Sial. Sang Pecinta Musim Dingin yang
Tampan ini kedinginan di musim dingin. Oke.
Beberapa pemikiran
mulai menerjang otakku. Mulai dari gadis itu yang kupandangi di toko bahan kue.
Gadis itu yang berjalan ke lahan kosong angker dan menghilang. Hingga
perkenalan singkat kami sebelum ia menghilang dalam waktu sepuluh detik tanpa
sedikit pun aku melihatnya.
Seharusnya aku
tidak perlu memikirkan itu, bukan? Siapa tahu ia berjalan ke arah yang berlawanan
dengan arah pandanganku, sehingga ketika aku berbalik untuk melihatnya, ia
sudah tidak ada. Begitu, 'kan? Tidak mungkin seperti itu. Demi Kuku Jari Uchiha
Fugaku, aku sudah memastikan tubuhku untuk berputar tiga ratus enam puluh
derajat, namun aku tak juga melihat bulatan bulu di topinya!
Aku mengacak-acak
rambutku. Baru kali ini ada pemikiran absurd yang menguasai
kepalaku. Menjajah seluruh tenagaku untuk terus menerus memikirkannya, dan
mencari kemungkinan-kemungkinan yang rasional. Namun sia-sia, gadis bernama
Hinata itu sudah membuat aku menjadi seorang irasionalis.
Kurasakan kepalaku
semakin terasa berat dan sedikit sakit. Aku pun memutuskan untuk berbaring
sebentar dan meredakan sakitnya. Dengan cepat, aku segera terjun dari ambang
jendela dan mendarat di kasur dengan sempurna. Kunyamankan posisi berbaringku,
dan aku menarik selimut tebal itu hingga ke ujung kepalaku. Demi Bantal Yang
Kutiduri, aku sudah memakai berlapis-lapis kain tebal, tetapi tak sedikitpun
aku merasa hangat!
Dengan tubuh
bergetar hebat karena menggigil, aku semakin menggelung hingga, aku berani
bertaruh, lututku menyentuh dahiku. Lama aku tak bisa mendapatkan kehangatan,
kepalaku semakin terasa sakit dan aku merasakan dunia seperti berputar, dan
terus berputar hingga aku kehilangan kesadaran.
-ooo-
"Sasuke?
Bangun, Nak." Sayup-sayup aku mendengar suara Ibu dari kejauhan. Aku
mengerang pelan dan segera membuka mata ketika kurasakan rasa dingin mulai
kembali menyerangku.
Setelah membuka
mata, aku melihat Ibu duduk di sebelah kananku sambil memandangku dengan penuh
rasa khawatir. Aku berusaha berbicara namun yang terdengar hanyalah geraman .
Suaraku serak.
Ibu menyentuhkan
tangannya di dahiku, dan berkata, "Tubuhmu panas sekali, Sayang."
Aku menggerakkan
kepalaku untuk mengusir tangan Ibu sembari mengerang. Kh. Menyusahkan! Mengapa
aku harus jatuh sakit di saat seperti ini?
"Okaasan,
a-aku masih bisa bekerja," kataku dengan susah payah sembari meposisikan
diriku untuk duduk. Ah, aku merasa seperti pria tua tampan yang kesusahan untuk
duduk.
"Iie,"
tukas Ibu dengan tegas. Ia menyentuhkan tangan kirinya pada belakang kepalaku,
dan meletakkan tangan kanannya di pinggang kiriku untuk mengembalikan posisiku
yang semula berbaring. Sembari menggerutu, aku akhirnya menurut saja karena
kepalaku memang sangat sakit. "Mengapa bisa begini?" tanya Ibu lagi
sembari membelai rambutku dengan sayang.
Ibu, tolong jangan
buat anakmu ini menjadi manja! Lihatlah ekspresiku. Aku sedang menahan keinginan
untuk berbaring di pangkuannya. Untung pertahanan diriku cukup kuat sehingga
dengan satu tarikan napas aku sudah bisa menghilangkan keinginan itu.
Tunggu. Tadi apa
yang ditanyakan Ibu? 'Mengapa bisa begini'? Ah, benar. 'Mengapa bisa begini?'
Mengapa aku bisa tiba-tiba jatuh sakit? Jangan bilang ini karena Gadis Hantu
itu? Tolonglah, kalau memang benar ia yang membuat aku ketakutan sampai jatuh
sakit, jangan sebut aku laki-laki. Tidak. Pasti bukan karena Hinata. Ini pasti
karena semalam aku bukannya langsung tidur tetapi justru berdiam diri di ambang
jendela, dan bangun pada pagi buta. Ya, pasti karena aku tidur larut malam.
"Tidur
larut," jawabku saat sudah merasa yakin karena apa.
Ibu mendesah kesal.
Ia memandangku galak—tetapi tidak bisa membuat aku menciut seperti jika Ayah
yang memandang galak. Jujur, wajah galak Ibu masih bisa ditoleransi bahkan oleh
anak berusia tiga tahun sekali pun. Memang dasar ia sangat cantik. Sama halnya
denganku yang tampan ini. Aku sangat yakin jika aku sedang marah, para wanita
masih akan terus mengejar-ngejarku. Aku yakin itu.
"Malam ini,
tidak ada tidur larut!" ujar Ibu tegas. Ia berdiri dari tempat tidurku dan
berjalan pergi setelah mengatakan, "Akan Haha buatkan 'Kotoran telinga
gajah',"
Aku meneguk ludah
saat Ibu mengatakan itu. Sungguh, itu bukan benar-benar 'kotoran telinga
gajah', tetapi merupakan obat racikan Ibu sendiri yang warnanya hijau sedikit
kuning—seperti ingus—dan baunya sangat busuk dengan rasa pahit yang memuakkan.
Saat aku bertanya Ibu membuatnya dengan apa, Ibu hanya tersenyum lebar dan
tidak menjawab. Memang obat itu sangatlah mujarab—kau bisa sembuh dari demammu
dalam waktu lima jam—tetapi, siapa gerangan yang mau meminum obat menjijikkan
itu?
Aku melirik jam
dinding dan sedikit terhenyak saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga
lewat lima belas. Oh, aku merutuk pada diriku sendiri, mengapa aku harus sakit
dalam keadaan seperti ini? Seharusnya aku sudah di dapur untuk membantu Ayah
memanggang roti, tetapi aku justru enak-enakkan tidur di saat semuanya bekerja.
Aku bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan jenis kelaminku.
Aku merasa tidak
seperti laki-laki—sekalipun wajahku sangat amat tampan.
-ooo-
Segera aku
terbangun dari tidur ketika kurasakan tubuhku diguncang. Demi Tuhan aku yakin
mimpi burukku sudah datang. Dan benar. Saat aku membuka mata, aku melihat Ibu
sudah membawa gelas ocha sembari tersenyum padaku. Aku tidak dapat mengartikan
senyuman itu.
Dengan enggan aku
beranjak duduk dan segera meraih gelas ocha yang dipegang Ibu. Aku meneguk
ludah ketika cairan berwarna hijau yang sedikit kental itu bergerak-gerak
menjijikkan. Aku nyaris muntah saat menghirup baunya yang seperti kotoran
telinga. Demi kesembuhan, batinku. Aku memejamkan mata, menutup
hidung dengan tangan kiri, dan mengernyit jijik ketika aku mulai meminum
'kotoran telinga gajah'.
Baru separuh gelas
aku meminumnya, aku sudah tidak tahan dan terbatuk-batuk karena nyaris muntah.
"Akhu tidhak
khuat, Okhaasan," ujarku sembari menyodorkan kembali gelas ocha itu pada
Ibu.
"Harus
dihabiskan," tegas Ibu tanpa tanggung-tanggung. Melihat aku yang tidak
merespon, Ibu segera merebut gelas itu dan membuat aku meminumnya sampai habis
dengan paksaan. Aku membelalakkan mata karena tidak sempat menutup hidung, dan
mau tak mau menelannya sampai tandas. Lagi-lagi aku terbatuk-batuk. Aku yakin
wajahku sudah berubah hijau sekarang. "Anak pintar. Sekarang
tidurlah," ujar Ibu sambil tersenyum. Ia membaringkan aku, menyelimutiku,
dan mengecup dahiku dengan lembut.
Aku membalas
senyumannya. "Arigatou, Okaasan," bisikku sambil memejamkan mata dan
mulai kembali terbawa ke alam tidur.
-ooo-
Ketika aku
terbangun, jam dinding sudah menunjuk pukul delapan lebih sedikit. Aku sudah
merasa luar biasa lebih baik. Ini pasti karena 'Kotoran telinga gajah'. Obat
menjijikkan itu memang sangatlah teramat manjur. Tidak heran jika Ibu sangat
membanggakan obat itu. Pernah Ibu sempat menjualnya, dan tidak laku karena
namanya yang menjijikkan. Akhirnya, sisa barang dagangannya tidak dibuang,
melainkan diminumkan pada aku, Itachi, dan Ayah. Itu adalah hari paling
menyiksa bagi kami. Bayangkan kau harus meminum kotoran telinga sebanyak tiga
gelas bir dalam sehari! Membayangkannya saja membuatmu bergidik ngeri, bukan?
Aku turun dari
tempat tidurku, membasuh wajah dengan air sedingin es di kamar mandi, dan
melepaskan mantelku karena sudah merasa sangat baik. Aku turun dari lantai dua,
dan mendapati keluargaku sedang sibuk membersihkan dapur dan juga toko.
"Wah, Sang
Pemalas sudah bangun," tegur Itachi sembari mencibir. Jika kau hanya sekilas
memperhatikan, pria yang tidak lebih tampan dariku itu hanya sedang
membersihkan oven. Tetapi bukan aku namanya jika tidak jeli. Aku berani
bersumpah, aku melihat vas bunga malang dengan noda permanen itu sedang
menunggu untuk dibersihkan di sebelah oven! Melihatnya, aku hanya memutar bola
mata, karena aku tahu ia tidak akan mendengarkanku jika aku mengatakan, 'Baka
aniki, itu noda permanen.'
"Hn,"
sahutku cepat. Aku segera menyambar lap yang tergantung di sebelah penyimpanan
adonan. Dengan cekatan, aku membersihkan tempat penyimpanan yang sudah kosong
itu hingga bersih mengilap. Kosong. Aku menggigit bibir. Seharusnya hari ini
aku membeli persediaan bahan roti. Namun karena aku sakit, aku jadi tidak bisa
membelinya. Sial. Lagi-lagi aku merasa bersalah.
"Kotoran
telinga gajah, ya?" tanya Itachi yang tahu-tahu sudah berada di sebelahku.
Ia menyeringai karena menyadari aku sudah sembuh total.
Buru-buru aku
mengangguk dan segera mencari objek lain yang bisa kubersihkan. Tampaknya
tempat ini sudah bersih, sehingga aku beralih ke toko. Di sana aku melihat Ibu
dan Ayah sedang bercengkerama dengan mesranya. Tangan Ayah melingkar di
pinggang Ibu, sedangkan Ibu melingkarkan tangannya di leher Ayah. Tch.
Pemandangan manis yang membuat aku cukup muak. Tolonglah, toko ini berdinding
kaca! Seisi kota bisa melihat kemesraan kalian, Ibu, Ayah!
"Aah,
Sasuke!" kata Ibu sembari melepaskan tangannya saat ia melihatku.
"Sumimasen,"
ucapku pelan sambil berdeham. Aku hendak memutar haluan sebelum kudengar Ayah
memanggil aku.
"Sasuke, mari
kita bicara sebentar," kata Ayah. Ibu segera meninggalkan aku dan Ayah
yang kini hanya berdua di toko. Ia menarik bangku kasir, dan menyuruh aku duduk
di sana, sedangkan Ayah duduk di bangku yang satunya.
"Ada apa,
Otousan?" tanyaku ketika aku mulai meletakkan bokongku di atas bangku.
"Ada yang
mengganggu pikiranmu?" tanya Ayah langsung pada intinya. Ia menatapku
serius namun ada sebersit perhatian dan rasa simpati tergambar di kedua matanya
yang memancarkan ketegasan.
Aku menggigit bibir
dan mengalihkan pandanganku ke arah rak-rak display yang kini sudah kosong dan
bersih. Ah, tampaknya dagangan Ayah laku seperti biasanya. Tunggu. Fokus,
Sasuke.
"Tidak
juga," dustaku. Sungguh, ada yang benar-benar mengganggu pemikiranku.
Hinata. Gadis misterius yang bisa menghilang dalam waktu sepuluh detik itulah
yang selalu kupikirkan dua hari ini. Dari awal aku melihatnya, aku sudah cukup
merasa terpesona. Dan kini aku masih terpesona dan semakin penasaran akan
dirinya. Aku ingin menjumpainya sekali lagi dan menanyakan perihal
menghilangnya ia hari ini dan kemarin.
"Kau anakku
selama enam belas tahun, Sasuke. Mana mungkin aku tidak memahamimu," tukas
Ayah sedikit mulai tidak sabar, namun ia menekan jelas-jelas segala emosi yang
bisa saja meletup. Aku tahu ia bukanlah tipe laki-laki yang mudah termakan
emosi. Tetapi jangan harap kau selamat jika Uchiha Fugaku sudah mulai merasa
kesal, karena ia akan memberikanmu sepatah dua patah kata yang mampu
meruntuhkan seluruh hidupmu.
Aku menghela napas.
Ada benarnya juga perkataan Ayah. Tidak mungkin seorang Ayah tidak memahami
kondisi anaknya sendiri.
"Memangnya apa
yang membuat Ayah merasa begitu?" Bukannya menjawab, aku justru balik
bertanya.
"Kau. Tidur
larut. Jatuh sakit pada musim dingin," jawab Ayah dengan singkat.
Ya, benar. Aku
jarang tidur larut, dan aku nyaris tidak pernah jatuh sakit.
Apa lagi musim dingin! Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku mencintai musim
dingin? Kesimpulannya, jika aku mencintai musim dingin, aku akan menikmatinya,
dan tidak akan jatuh sakit. Tetapi kali ini berbeda. Sudah pasti akar dari
semua ini adalah Gadis Hantu itu. Ia yang membuatku tidur larut. Dan karena
itulah aku jatuh sakit. Ayolah, bukan karena aku takut padanya. Catat itu.
"Ada
sedikit," jawabku akhirnya, menyerah. Tak ada untungnya berbohong pada
seorang Fugaku. Ia pasti akan mengorek habis-habisan kebohonganmu, dan akan
membuatmu menyesal karena sudah berbohong padanya.
"Ceritakan,"
kata Ayah. Suaranya mulai melembut. Tunggu. Apakah ada salah satu dari kalian
yang mengharapkan Ayah membelai rambutku seperti Ibu? Kalau ada, tolong
hapuskan harapan itu, karena jelas-jelas tidak akan terkabul. Ia kaku. Sangat
kaku sekalipun aku tahu ia sangat mencintai keluarganya.
Aku merasa sedikit
gelisah memikirkan jawaban apa yang akan kulontarkan pada Ayah. Haruskah aku
menceritakan bahwa aku menjumpai seorang gadis yang menarik perhatianku, dengan
wajah memerah, lalu mengatakan kalau gadis itu membuatku terpesona hingga aku
tahu kalau ia sejenis makhluk astral yang bisa menghilang dalam waktu sepuluh
detik? Aku berani bertaruh, beginilah tanggapan Ayah: Ia akan mendengus geli,
tersenyum meremehkan dan berkata, 'Kau mabuk.' Lalu pergi begitu saja.
"Maaf Ayah,
aku tak bisa," kataku akhirnya, memutuskan.
Ia mengerutkan
kening dan memandangku dengan mata sedikit dipicingkan.
"Sudah mulai
bermain rahasia denganku?" tanya Ayah dengan nada tersinggung.
"Tidak.
Otousan tidak akan percaya dengan kata-kataku," tukasku cepat untuk
mengakhiri perbincangan. Aku segera berdiri dan berkata, "Banyak hal yang
harus aku kerjakan."
Sialnya, Ayah tidak
ingin mengakhiri perbincangan kami. Ia menarik pundakku agar segera kembali
duduk dan mendesak, "Aku akan percaya."
Terjebak. Ia sudah
memutuskan untuk percaya, dan mau tak mau aku harus menceritakannya. Tetapi aku
terlalu gengsi untuk menceritakan soal gadis pada orang tuaku. Memang sudah
seharusnya aku sudah mulai mau menceritakan tentang orang yang kukagumi, karena
aku sudah menginjak usia enam belas tahun, yang artinya masih butuh pengawasan
orang tua.
"Aa," gumamku.
Aku menggigit bibir sambil mengetuk-ngetukkan kakiku ke lantai. Akhirnya, aku
menghela napas dan mulai menceritakannya dari awal sampai akhir secara
mendetail dengan suara minim. Selama aku bercerita, Ayah memandangku serius dan
ia terlihat benar-benar menyimak tanpa sekalipun menginterupsi. Aku cukup
senang dengan sikap Ayah yang satu ini. Ia adalah pendengar yang baik, dan
tidak suka membuat sang Pembicara merasa tersinggung, kecuali jika sang
Pembicara-lah yang lebih dulu menyinggung perasaannya.
Usai ceritaku, Ayah
mengangguk-angguk mengerti. Tidak seperti perkiraanku pada emosinya, ia tidak
mengubah sedikit raut wajahnya. Hanya kedua matanya saja yang sedikit berkilat.
Aku tahu pasti arti kilatan di matanya.
"Jadi begitu.
Gadis Hantu, ya?" tanya Ayah sembari masih manggut-manggut.
"Hn,"
sahutku.
"Bercak bundar
berwarna merah di dahi. Menghilang di dataran angker, dan menghilang dalam
waktu sepuluh detik. Tetapi pipinya hangat," gumam Ayah lagi, lebih kepada
dirinya sendiri. "Ia bukan hantu, Sasuke."
Aku sedikit merasa
tertarik dengan percakapan ini. Aku mencondongkan tubuhku lebih dekat pada
Ayah, dan bertanya, "Jadi?"
"Pernah
mendengar Pegasus, atau Kuda Sembrani?" tanya Ayah padaku.
"Tentu,"
jawabku. Memang aku sering mendengar dua istilah berarti sama itu di buku
dongeng mitologi yang sering dibelikan Ayah atau Ibu untuk aku dan Itachi.
Makhluk itu adalah makhluk yang katanya hidup di zaman dewa-dewi. Sejenis kuda
dengan satu tanduk di keningnya, dan bersayap. Tunggu. Satu tanduk di
keningnya. Bercak bundar di 'kening'nya. Kurasa aku mulai mengerti.
Aku menegakkan tubuh sembari membelalakkan mata.
"Sudah
mengerti, ya?" tebak Ayah.
Tak kusangka,
Ayahku secerdas ini. Alih-alih mengatakan aku mabuk atau konyol, ia justru
menebaknya dengan tebakan irasional yang berbau dongeng dan fantasi. Aku cukup
terkejut, mengetahui Ayahku menyukai hal-hal irasional, sedangkan ia adalah
seorang rasionalis sepertiku. Dan lebih parahnya lagi, seorang Uchiha Fugaku
memiliki pengetahuan cukup banyak soal dongeng mitologi, yang kukira akan
dijauhinya. Oh. Pantas ia membelikan aku setumpuk buku dongeng. Rupanya Ayahku
ini menyukai hal-hal berbau takhayul dan khayalan.
"Yokatta,"
gumamku sembari mengangguk-angguk.
Ayah berdiri, lalu
berjalan setelah mengatakan, "Pecahkan sendiri misterimu ini. Kuberi waktu
libur selama seminggu, karena aku tak suka melihat pewaris toko roti ini
bekerja setengah-setengah."
Aku tersenyum
mendengar itu, lalu mengangguk untuk menyampaikan rasa terimakasihku.
Libu satu minggu.
Yang benar saja! Itu lebih dari cukup untuk mencari informasi tentang Gadis
Hantu itu. Lihatlah, Hinata. Sebentar lagi rahasiamu akan segera terbongkar.
-ooo-
Sepakat. Aku dan
Ayah sudah sepakat untuk tidak membeberkan rahasia besar tentang dugaan kami
seputar Gadis Hantu bernama Hinata itu. Ternyata ia adalah partner yang sangat
membantu. Tak salah jika selama ini aku mengaguminya sebagai sosok Ayah pekerja
keras yang tegas.
Aku berpamitan pada
anggota keluargaku untuk pergi ke luar. Jelas sekali niatanku kali ini, namun
hanya aku dan Ayah yang mengetahui alasan sebenarnya. Aku memakai pakaian
bepergian musim saljuku yang biasa. Namun kali ini, aku akan mengenakan sarung
tangan. Yah, akhirnya Ayah memberikanku sejumlah uang untuk membeli sarung
tangan. Hanya sepasang, oke? Dengar, hanya sepasang. Tidak ada cadangan. Namun
aku tidak peduli. Selama Ayah masih mau menjaga rahasia itu dan membantuku, aku
tidak keberatan diperlakukan tidak adil olehnya.
Kira-kira sekitar
sepuluh menit aku berjalan melintasi kota ini, namun tak sekalipun aku melihat
tanda-tanda kehadiran Hinata. Yang kujumpai justru perempuan-perempuan genit
yang rela aku nikahi tanpa status, asalkan bisa tidur denganku. Aku tidak
membalas sapaan mereka walaupun hanya sekedar berupa anggukan. Kupikir hal itu
akan membuat mereka kesal, namun justru sebaliknya. Mereka menjerit histeris.
Tch. Kurasa mereka menyukai sikap dinginku. Mungkinkah aku harus buang angin di
depan mereka dulu, baru mereka akan menghindariku?
Aku merasakan
dingin yang menusuk di tanganku, dan saat itulah aku ingat kalau aku belum
membeli sarung tangan. Dengan segera, aku memutar haluan ke toko pakaian yang
terletak tak jauh dari toko bahan kue tempat di mana aku pertama kali berjumpa dengan
Gadis Hantu itu.
Sekitar lima menit
aku sudah sampai di toko pakaian itu. Segera kuambil sarung tangan wol
sederhana berwarna coklat yang kurasa cukup hangat. Setelah membayar, aku
langsung memakainya di tempat, dan keluar dari toko itu untuk mencari sosok
Hinata lagi. Jika aku berjalan ke sebelah kanan toko pakaian, aku akan melewati
toko bahan kue itu.
Dalam hati aku
bertanya-tanya, apakah Hinata ada di dalam sana, sehingga langkah kakiku pun
bergerak ke toko bahan kue itu. Seperti biasa, yang menyapaku pertama kali
adalah aroma nikmat yang menguar dari beberapa ceri atau pun gula-gula yang
memenuhi sebuah tong di dekat kasir.
"Ohayou,
Sasuke! Kudengar kemarin kau sakit, ya?" sapa Nenek Chiyo sembari
tersenyum ramah.
Aku berjalan
mendekatinya, dan tanpa membalas sapaannya, aku bertanya, "Chiyo-baasan,
apakah gadis yang dua hari yang datang, hari ini juga ke mari?"
Nenek Chiyo
mengerutkan keningnya, lalu bertanya, "Siapa yang kau bicarakan, Anak
Muda?"
Ah, benar. Pasti
banyak gadis yang datang kemari dua hari yang lalu. Bodoh sekali aku! Aku
meralat pertanyaanku, "Gadis dengan rok mantel berwarna merah muda,
kulitnya putih seputih salju, dan rambut panjangnya berwarna biru tua."
Lawan bicaraku
tampak mengingat-ngingat. Kurasa ia mulai menggabung-gabungkan ciri-ciri yang
kuucapkan di dalam otaknya. Lalu ia tersenyum dan terkekeh sambil berkata,
"Maksudmu Hinata?"
Ia tahu namanya!
Nenek Chiyo mengetahui namanya! Jika tahu Nenek Tua ini mengetahui namanya, aku
tak perlu repot-repot mengeluarkan suaraku banyak-banyak, 'kan? Tch. Aku banyak
bicara hanya untuk menjelaskan ciri-ciri orang yang aku dan Nenek Chiyo sudah
tahu namanya.
"Aa,"
sahutku singkat sambil mengangguk dua kali.
"Ya, tadi ia
ke mari. Tetapi hanya membeli coklat cair dan gula-gula," sahut Nenek
Chiyo sambil tertawa-tawa.
Tolonglah! Aku
tidak membutuhkan informasi tentang apa yang dibelinya!
"Lalu?"
tanyaku sedikit tidak sabar. Jantungku berdegup cukup kencang karena menahan
emosi.
"Ia sudah
pulang. Hinata bilang, ia ingin mampir ke toko bunga," jawab Nenek Chiyo
lagi dengan wajah masih berseri-seri.
Aku mengangguk
mengerti. 'Toko Bunga'. Hanya ada satu toko bunga di kota ini. Toko Bunga
Yamanaka! Ya, pasti di sana sekarang! Aku segera berbalik badan, dan menyerukan
terimakasih sembari berjalan cepat.
Di depan pintu,
sayup-sayup aku mendengar Nenek Chiyo berseru, "Perjuangkan cintamu,
Sasuke!"
Dan seketika,
wajahku memanas.
-ooo-
Aku sudah nyaris
sampai di toko bunga milik keluarga Yamanaka. Dengan tergesa-gesa, aku berlari
sangat cepat. Lari membuat tubuhku cukup menghangat di antara udara dingin ini.
Aku berharap aku tidak sampai berkeringat, karena aku ngeri membayangkan keringatku
membeku di pori-pori.
Ya. Satu toko laki
kulewati, aku akan segera sampai. Akhirnya. Akhirnya aku sudah berdiri di depan
pintu toko bunga itu. Aku memasuki bangunan yang luasnya hampir menyerupai toko
roti keluargaku itu. Deretan pot-pot dan berbagai bunga yang menggantung-lah
yang menyambutku di sini. Kepalaku mulai celingukan untuk mencari sosok Hinata,
namun sialnya, yang kujumpai adalah gadis berambut pirang dengan mata berwarna
biru. Ia menghampiriku dengan wajah merona.
"Sasuke-kun!"
panggilnya sambil berlari ke hadapanku.
Aku memutar bola
mata sambil mendengus kesal. Ia mengajakku berbicara, namun tak sedikitpun
kusimak, karena aku terus-terusan celingukan mencari gadis berambut indigo itu.
"Sasuke-kun!
Kau tidak mendengarkanku, ya?" tanya gadis bernama Ino itu sambil
memberenggut.
Aku mendengus lagu
dan berkata tegas, "Tolong minggir. Aku tak punya banyak waktu."
Dengan kesal, Ino
berjalan kembali ke kasir, dan saat itulah aku menemukan Hinata tengah berdiri
di depan kasir dengan sebuket bunga berwarna putih di pelukannya, dan sekantong
plastik di tangan kanannya. Ia sepertinya habis membayar bunga yang dibelinya,
karena ia membungkukkan badan dan mulai berbalik ke pintu.
Aku segera berdiri
di tepat di ambang pintu, untuk memblokade akses keluar-masuk toko itu. Hinata
sampai di depanku. Ia memandangku dengan tercengang, sementara itu aku
mengangkat ujung bibir sebelah kiriku.
"U-Uchiha-san?"
bisik Hinata tanpa sekalipun mengedipkan mata ungu mudanya.
Sedikit membungkuk,
aku berbisik di sebelah telinganya, "Tak akan kubiarkan kau menghilang
lagi."
To be continued.
-Anonymous hyuuga-
Copied from
Facebook-SasuHina Fanfiction