P E G A S U S Author: Anonymous Hyuuga |
3
Disclaimer:
Masashi Kishimoto, I don't claim Naruto ^^
Warning:
Typo, OOC, AU, Stupid Fantasy, Another utility of Gelel Stone, Dark Naruto
Pairing:
Sasuke U & Hinata H
.
.
.
So this is it!
Anonymous Hyuuga presents
.
.
.
"PEGASUS"
Part Three
Ia menatapku dengan pandangan takut. Bibir bawahnya tampak gemetar, dan
mata ungu mudanya tampak berkaca-kaca. Sebenarnya aku cukup merasa tidak enak
jika ada seorang gadis menangis di hadapanku. Tetapi mau bagaimana lagi? Aku
sudah terlanjur penasaran dengannya. Dan kali ini, aku benar-benar tak bisa
membiarkannya pergi. Aku berjanji akan bertanggung jawab nantinya. Tetapi,
biarkan aku mengetahui lebih lanjut tentang gadis ini.
"Hinata-chan," panggilku dengan lembut. Seenak jidat aku
memanggilnya dengan suffixitu. Tapi persetan. Aku sudah terlanjur
terjerat dalam pesonanya.
Hinata memandangku seakan berkata, 'tolong lepaskan aku'. Tetapi aku justru
menarik pundaknya hingga kami sama-sama keluar dari toko bunga milik keluarga
Yamanaka. Aku membawanya ke sebelah toko itu, di mana ada lahan kecil yang
membatasi toko bunga ini dengan toko meubel di sebelahnya.
"Aku ingin berbicara denganmu. Sebentar saja," bisikku. Kini
posisi kami adalah, aku menghimpitnya di antara tubuhku dengan dinding luar
toko bunga. Kepalaku sedikit menunduk dengan kedua tangan masih mencengkeram
lembut kedua pundaknya.
"Ku-kumohon. Mereka me-membutuhkan aku," bisiknya dengan kepala
tertunduk. Aku melihat ke bawah dan tampaklah sebutir dua butir bening air
mata. Sungguh, hatiku terasa sesak melihatnya menangis. Tetapi bukannya aku
sudah bilang bahwa aku akan bertanggung jawab setelah aku mengetahui semuanya?
"Jangan menangis," kataku sambil berdiri tegak tanpa melepas
cengkeramanku. "Aku hanya ingin mengetahui sedikit tentang dirimu."
Hinata mendongak. Mata ungu mudanya terlihat berkilauan karena bekas-bekas
air mata. Di kedua pipinya yang tampak semakin merona terlihat jalur-jalur air
mata. Sungguh hatiku terasa menghangat kini saat melihat sosok rapuhnya.
"Ha?" tanya Hinata dengan kedua pipi yang semakin memerah.
"Aku ingin mengenalmu," ulangku sedikit lebih jelas.
Sedikit demi sedikit pandangan Hinata bergerak turun. Ia berkata lemah,
"U-Uchiha-san su-sudah tahu namaku."
Aku tersenyum kecil saat mendengar suaranya yang lembut. Ah sial. Aku
benar-benar sudah dikuasai oleh Gadis Hantu ini! Gadis polos dengan pandang
mata tak berdosa. Suaranya lembut dan perkataannya selalu terbata-bata.
Tubuhnya langsing dan rapuh. Cara berjalannya yang tergesa-gesa dan menggemaskan.
Topi dengan bulatan bulu yang ia kenakan. Semua itulah yang selalu membayangiku
tiga hari ini.
"Tidak hanya namamu," timpalku cepat, dan lagi-lagi mata ungu
mudanya bertemu dengan bola mata hitam legamku. Bibirnya tidak terkatup
sempurna dan terlihat deretan gigi putihnya yang rapi, yang menambah pesonanya.
Lugu. Satu kata yang menggambarkan keseluruhan sosok Hinata.
"Lalu?" tanya Hinata dengan bingung sambil memiringkan kepalanya,
sehingga bulatan bulu di kepalanya sedikit bergerak. Tch. Menggemaskan!
Aku menolehkan kepalaku ke sana ke mari, untuk mencari tempat yang lebih
enak untuk berbicara. Dan akhirnya aku menemukan sebuah gudang tua yang aku
tahu sudah lama tidak digunakan. Aku menarik tangan Hinata dan membawanya ke
sana. Kurasakan tangan yang kugenggam sedikit bergetar kala kita sudah sampai
di depan gudang bobrok itu. Kurasa ia mulai berpikir yang tidak-tidak.
"O-oh, aku tidak akan macam-macam padamu," ujarku cepat sebelum
menariknya masuk ke gudang, dan menutup pintunya. Aku menyuruh gadis itu duduk
di tumpukan jerami yang kurasa sudah lama ditumpuk di sana. Sedangkan aku,
duduk di depannya tanpa melepaskan tanganku pada pergelangan tangannya.
"Mengapa kau bisa menghilang?" tanyaku langsung ke intinya.
Gadis itu terlonjak. Ia memandangku dengan mata membuka lebar.
"A-apa?" tanyanya dengan raut wajah ketakutan.
"Tenanglah. Apa pun jawabanmu, aku sudah bersumpah dalam hati untuk
tidak menyebarkannya," bisikku lembut untuk menenangkannya.
Perkataanku tadi membuat ekspresi Hinata melunak. Ia sudah mulai
memperlihatkan ekspresi polosnya yang membuatku terpesona sejak awal.
"U-Uchiha-san ja-janji tidak akan menyebarkannya?" tanya Hinata
sedikit merasa ragu. Namun aku tahu ia adalah orang yang mudah mempercayai
seseorang, sehingga aku bisa memanfaatkan keadaan ini. Tetapi demi planet bumi,
aku tidak akan menyebarkannya untuk kepentinganku sendiri, apa pun jawaban yang
dilontarkannya.
"Ya. Oh, jangan panggil nama keluargaku. Panggil aku 'Sasuke',"
sahutku. Aku meremas pelan pergelangan tangannya, untuk menambahkan ketenangan
dan kepercayaannya.
"Sa-Sasuke," bisiknya, lalu ia tersenyum dengan kepala sedikit
menunduk. Kemudian ia kembali menegakkan kepalanya. Ia menarik pelan tangan
kirinya dan menyibak poninya sedikit ke samping.
Saat itulah aku melihat bercak bundar di keningnya terlihat berkilauan.
Seakan bercak itu memancarkan cahaya yang menyilaukan. Tetapi ternyata memang
begitu adanya. Bercak di kening Hinata lambat laun terlihat seperti berlian
yang memantulkan cahaya mentari. Aku termangu melihatnya. Terlalu mempesona
buatku.
"Sasuke-san benar-benar bersumpah?" tanya Hinata lagi untuk
meyakinkan dirinya sendiri. Aku mengangguk samar tanpa mengalihkan perhatian
dari kening Hinata yang menyita perhatianku.
Aku membelalakkan mata dan sedikit terlonjak ketika melihat sesuatu yang
panjang dan runcin mulai tumbuh dari bercak bundar di kening Hinata itu. Sukses
mulutku menganga dibuatnya. Benar kata Ayah. Ia Pegasus.
"Sudah mengerti?" tanya Hinata dengan raut wajah sedih. Lambat
laun benda runcing itu kembali menghilang dan menyisakan bercak bundar di
keningnya. "Se-sesungguhnya ini rahasia besar."
Sial. Aku sudah membuatnya membeberkan rahasia besarnya. Aku menunduk dan
diam-diam merasa bersalah. Seharusnya aku sudah tahu itu. Aku menggumamkan kata
maaf yang nyaris tidak terdengar.
"Daijoubu. A-aku percaya pada Sa-Sasuke-san," bisiknya malu-malu.
Aku mendingak dan mendapati wajah gadis itu memerah. Tiba-tiba ia tampak
seperti baru saja mengingat sesuatu. Ia membelalakkan kedua matanya dan
menengok ke sana ke mari. "Ja-jam berapa sekarang? A-aku harus buru-buru
pu-pulang!" serunya dengan raut wajah panik.
Aku mengerutkan kening tidak mengerti.
"Ada apa?" tanyaku sembari mengeratkan genggamanku pada tangan
Hinata.
Hinata memandangku dengan pandangan berkaca-kaca yang sama dengan yang
tadi. Sial. Hatiku kembali mencelos melihat kedua bola mata ungu mudanya
berlinang air mata. Apakah aku yang membuatnya menangis? Kalau memang ia, aku
tak akan memaafkan diriku sendiri. Sungguh.
"Mereka… Me-mereka dalam bahaya," bisiknya lagi. Tubuhnya kini
bergetar. "A-aku harus pergi, Sasuke-san. Le-lepaskan tanganmu."
Mereka? Siapa 'mereka' yang dimaksud Hinata? Dan apa maksudnya 'dalam bahaya'?
"Jelaskan padaku," desakku dengan mimik wajah serius.
"To-tolonglah. Ti-tidak ada waktu lagi!" jeritnya sembari mulai
terisak.
"Akan kulepaskan. Tetapi ada satu pertanyaan," kataku lagi.
Bodoh. Apa-apaan aku ini? Bagaimana jika yang dimaksudkan oleh Hinata memang
benar-benar penting? Kalau memang begitu, lantas mengapa aku terus menerus
mencegahnya pergi? Jujur, kali ini aku benar-benar egois. Aku ingin menahan
gadis ini lebih lama lagi untuk diriku sendiri.
"Cepat," sahut Hinata dengan tubuh kian bergetar. Aku mengeratkan
genggamanku untuk menenangkannya, dan lambat laun tubuhnya mulai terasa rileks.
"Apakah… apakah Pegasus boleh menikahi manusia?" Tch. Pertanyaan
apa itu? Bodoh. Aku menyesali pertanyaanku yang barusan. Wajahku mulai terasa
panas ketika aku menyadari kata 'Pegasus' yang kumaksud adalah Hinata, dan
'manusia' adalah aku.
"Bo-boleh, tapi harus ada pengorbanan," jawab Hinata dengan
sangat cepat.
"Ka-kau… kau berniat menikahi manusia?" tanyaku lagi, semakin
menghabiskan waktu. Aku mengutuk diriku sendiri soal ini. Tetapi benar, aku
akan bertanggung jawab akan apa yang terjadi jika aku terus menerus menahan
dirinya seperti ini.
"Aku harus pergi!" jerit Hinata dengan air mata yang kian
membanjir.
Spontan aku terkejut dan segera melepaskan kedua tanganku dari pergelangan
tangannya. Kurasa ia benar-benar sudah merasa kesal dengan sikapku.
"Gomen," ujarku pelan.
Hinata bangkit berdiri sambil meraih barang belanjaannya. Aku menatapnya
yang juga tengah melihatku. Matanya yang banjir air mata terlihat sendu, tetapi
ia terus memaksakan senyum, yang membuat hatiku terasa semakin sakit. Ia
menunduk mendekatiku dan mencium keningku.
Sial. Wajahku memerah hanya karena dicium seorang gadis!
"Jaa mata ne? Itte kimasu," ujarnya dengan suaranya yang sangat
lembut.
Aku mengangguk lalu mengedip, dan saat aku membuka mata, aku sudah
benar-benar sendirian di gudang tua ini. Gadis Hantu itu benar-benar sudah
pergi. Entah mengapa, saat ada dirinya di sini, gudang tua ini terasa hangat
dan bercahaya. Namun kini sumber kehangatan dan cahaya itu sudah pergi. Yang
tersisa hanyalah kegelapan dan dingin yang menusuk tulang.
Aku menggigil dan spontan merapatkan mantelku. Diam-diam aku merasa senang
sudah mengetahui hal paling besar tentang Hinata. Aku sudah mengetahui bahwa ia
adalah 'seorang' Pegasus. Pegasus yang sangat cantik dan mengagumkan. Pegasus
yang sudah memenjarakan aku dalam cahaya pesonanya. Jantungku mulai terasa
berdebar hebat jika aku mengingat wajah lugunya yang tersenyum, atau kepalanya
yang bergerak sehingga bulatan bulu di ubun-ubunnya bergerak. Kurasa aku sudah
jatuh cinta pada hewan mitologi.
-ooo-
"Tadaima!" seruku sesaat setelah membuka sepatu dan
menggantungkan mantel di sebelah pintu toko. Yang kulihat di sana adalah
pemandangan sehari-hari yang sudah biasa. Ayah yang berdiri di belakang meja
kasir dengan banyak pelanggan di depannya yang sedang memilih-milih roti atau
mengantre untuk membayar. Di depan rak display ada Ibu yang baru saja menutup
tutup rak dengan sarung tangan menutupi tangannya sampai ke siku. Dan seperti
biasa, di sudut ruangan ada kakak laki-laki bodoh yang sedang membersihkan vas
bunga.
"Okaeri. Kau dari mana saja?" tanya Itachi sambil meniup-niup
noda di vas bunga malang itu.
Aku tidak menanggapinya dan malahan berkata, "Tolong gantikan Otousan
sebentar, Aniki. Aku ingin berbicara dengannya."
Itachi mengangkat bahu dan mengangguk. Ia berkata sesuatu pada Ayah, dan
Ayah segera meninggalkan kasir dan menghampiriku. Aku segera menariknya ke
dapur, tempat di mana tak ada seorang pun di sana.
"Nan desu ka?" tanya Ayah sesaat setelah kami duduk di depan
oven.
Aku mengatupkan kedua tanganku di depan hidung, dan berkata, "Tousan
benar."
"Hn?" sahut Ayah tidak mengerti. Namun lambat laun ia mulai
memahami, karena ia bertanya, "Kau sudah bertemu Hinata?"
"Hn," jawabku, "Ia—" Aku menghentikan kata-kataku
ketika aku teringat apa yang sudah kukatakan pada Hinata. Ayah mengerutkan
keningnya dengan raut wajah bertanya-tanya. Lalu aku menghela napas dan
melanjutkan, "Gomen. Aku sudah bersumpah."
Ayah mengangguk mengerti. Ia beranjak berdiri dan berkata, "Pegang
sumpahmu." Lalu ia berjalan kembali ke toko, meninggalkan aku sendirian di
dapur yang dipenuhi hawa panas dari oven yang menyala di mana-mana.
Lagi-lagi aku merenung. Kembali aku memikirkan pertemuan terakhirku dengan
Hinata, di mana Hinata mengatakan soal 'Mereka dalam bahaya' atau 'Mereka
membutuhkanku'. Aku masih tidak mengerti soal perkataannya. Dan lagi-lagi aku
merasa bersalah.
Aku pun beranjak berdiri, dan segera memulai tugasku sebagai calon pewaris
toko roti keluarga Uchiha. Kupasang apron merah marunku, dan aku mulai
mengambil roti mentah yang disimpan Ayah di lemari es. Kutata roti-roti itu di
atas sebuah loyang, dan kumasukkan ke dalam oven yang masih menyala. Meskipun
Ayah sudah memberiku libur selama seminggu, aku merasa tidak enak jika harus
berdiam diri, karena sudah terbiasa bergerak untuk bekerja.
-ooo-
Tak terasa sudah pukul delapan, yang artinya toko kami sudah harus tutup.
Aku melepas celemekku, dan mulai membantu Itachi membersihkan toko dan dapur.
Ayah mengambil uang yang ada di kasir, dan melakukan pencatatan bersama Ibu di
dalam kamar mereka.
Sudah bersih semuanya. Aku berpamitan pada Itachi, dan naik ke lantai dua
untuk membasuh wajah dan tidur. Saat aku sudah berbaring di atas tempat tidur,
aku merasakan mataku tidak juga mau tertutup. Bayang-bayang wajah Hinata yang
menangis siang tadi membuat aku merasa jantungku seperti dipukul sebuah godam
besar yang menyakitkan.
Setelah bersusah payah memejamkan mata, akhirnya aku jatuh tertidur dan
langsung diserang sebuah mimpi buruk.
Berikut mimpi burukku; aku melihat seekor kuda sembrani berwarna merah muda
nyaris putih dengan surai indigo terbang melintasi langit abu-abu dengan
suasana perang di sekitarnya. Terbangnya tidak sempurna. Ketika kuperhatikan,
pinggang kuda itu terluka dan meneteskan darah segar. Kuda itu berteriak.
"Sasuke!"
Jeritan itulah yang kudengar. Kuda itu memanggil namaku. Siapa dia?
Aku terbangun dengan napas terengah-engah. Keringat mulai bercucuran dan
membasahi seluruh tubuhku. Jantungku berdebar hebat, dan mataku terbuka lebar.
Hal pertama yang melintas di benakku adalah 'Hinata'.
"Hinata-chan," bisikku sembari mendudukkan tubuhku di atas tempat
tidur. Aku segera berjalan ke dapur keluarga untuk mencari air mineral. Aku
menemukan segelas air di atas meja makan, dan segera meneguknya sampai habis.
Sayup-sayup aku mendengar suara gedoran di pintu kaca toko yang ada di bawah.
Aku meneguk ludah. Siapa gerangan yang datang malam-malam begini?
Ternyata tak hanya aku yang mendengar. Kudengar suara pintu kamar Ayah dan
Ibu berderit, dan aku melihat Ayah keluar dengan kimono tidurnya.
"Siapa itu, Sasuke?" tanya Ayah yang segera menghampiriku ke
dapur.
Aku mengangkat bahu, dan kami memutuskan untuk melihatnya bersama. Kami
turun ke lantai bawah, dan berjalan ke toko yang terletak di bagian depan
bangunan rumah kami. Dinding kaca toko kami sudah ditutup dengan tirai-tirai,
begitu juga dengan pintunya. Ayah membuka tirai di pintu toko itu, dan yang
pertama kami lihat adalah sesosok gadis berambut panjang berwarna indigo tengah
menggedor-gedor pintu itu dengan wajah panik dan mata berlinang air mata.
Spontan aku segera menyeruak ke depan Ayah, dan membuka pintu itu. Gadis
itu jelas adalah Hinata. Sesaat aku bertanya-tanya, bagaimana ia mengetahui
rumahku. Aku melihatnya masih mengenakan rok mantel merah mudanya, dan topi
dengan bulatan bulu. Ia segera menghambur ke dalam pelukanku dan terisak di
sana.
Aku menoleh ke arah Ayah, dan memandangnya dengan pandangan bertanya,
sedang Ayah hanya mengangkat bahu. Aku bertanya pada Hinata, "Ada
apa?"
Hinata tidak menjawab. Ia masih terus terisak di dalam pelukanku, hingga
akhirnya ia melepaskan pelukannya, dan berkata, "Pe-perang. Perang
su-sudah meletus di negeriku."
Aku tertegun mendengarnya. Otomatis pemikiranku bergerak ke saat-saat aku
dan Hinata berada di sebuah gudang tua. Kata-kata 'mereka dalam bahaya' mulai
bergaung di dalam kepalaku. Aku memandang Hinata dalam diam. Napasku mulai
memburu dan sejenak rasa takut menguasaiku.
"A-aku bu-butuh bantuanmu, Sasuke-san. To-tolonglah. I-ini semua
karena aku yang terlambat datang ta-tadi siang," kata Hinata sembari
terisak keras.
Itu bukan kesalahanmu, Hinata. Aku yang sudah membuatmu terlambat. Aku yang
sudah menahanmu untukku sendiri. Aku yang sudah terlalu egois, dan kini
membahayakan 'mereka'.
Tunggu. Bukankah aku sudah bilang, kalau aku akan bertanggung jawab?
Aku menarik napas dalam, dan berkata tegas, "Aku akan membantumu."
Sesaat kulihat Hinata tersenyum. Aku melepaskan tangannya yang masih
memegang lenganku, dan segera berbalik badan untuk meminta persetujuan Ayah.
Sebelum aku sempat bertanya, Ayah sudah mengangguk dan berkata,
"Hati-hati."
Aku tersenyum, dan segera keluar tanpa menggunakan mantel atau sarung
tangan yang baru kubeli. Aku berjalan mengikuti Hinata yang bergerak memutari
rumahku, hingga akhirnya kami sampai jauh di belakang dapur, tempat di mana
dataran angker itu berada.
Hinata mengulurkan tangannya padaku, dan berkata, "Peganglah."
Aku menurut, lalu memegangnya. Dan satu detik berikutnya, aku sudah berada
di dunia lain.
-ooo-
Terpesona aku melihat yang ada di depanku. Ini bukan seperti dunia dongeng,
tempat di mana peri beterbangan dan warna-warni menyebar di segala penjuru.
Dunia ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan dunia dongeng yang
kumaksudkan. Ini lebih terlihat seperti mimpi buruk.
Api di mana-mana. Api ini berbeda. Tidak berwarna merah keoranyean,
melainkan berwarna hijau. Langit berwarna abu-abu berhias asap yang membumbung
tinggi. Kehancuran di segala penjuru. Aku terkadang melihat kuda-kuda sembrani
yang berjalan terpincang-pincang atau terbang tidak sempurna. Sejenak kepalaku
terasa sakit ketika mengingat mimpi buruk yang baru menyerangku beberapa menit
yang lalu.
"Li-lihat," bisik suara di sebelahku. Aku hampir saja lupa akan
keberadaan Hinata di sebelahku, dan nyaris terlonjak ketika kudapati Hinata
sudah berubah wujud. Tubuh rampingnya berwarna merah muda yang sangat
muda—nyaris putih—tidak seperti kuda-kuda pada umumnya, surainya berwarna
indigo, begitu juga ekornya yang menjuntai nyaris menyentuh tanah. Ada sebuah
sayap berwarna putih yang sedikit mengatup di sebelah kanan dan kirinya.
Punggungnya dibalut pelana indah berwarna perak yang cemerlang. Benda runcing
berwarna perak tumbuh horizontal di dahinya, dan di atas kepalanya tergantung
sebuah benda sejenis kalung yang juga berwarna perak. Ia menoleh ke arahku, dan
kulihat matanya berwarna ungu muda. Pegasus ber-image manusia.
Mungkin penggambaranku sedikit mengerikan, namun demi Tuhan, ia sangatlah
cantik dan menawan. Mataku nyaris tak dapat berpindah darinya. Ia menawan
hatiku. Menawan segala kesadaran dan emosiku. He, Sasuke. Ia dalam bahaya
sekarang. Jangan berpikir yang tidak-tidak!
"Naiki aku," kata Hinata.
Aku melongo. Yang benar saja? Menunggangi gadis… kh. Tolonglah! Jangan
berpikir yang tidak-tidak!
"Cepat," desak Hinata dengan suara bergetar.
Sesuai instruksinya, aku menaiki punggungnya yang berbalutkan pelana indah,
dan aku segera merasa tubuhku diangkat, karena sayap Hinata sudah mengepak dan
membawaku dan dirinya terbang. Sebentar aku merasa takut, namun lambat laun
mulai merasa terbiasa dan bisa duduk dengan tegap.
"Kita akan ke mana?" tanyaku keras-keras karena suasana bising di
sekitarku sedikit tidak memungkinkan untuk mendengar suara pelan.
Hinata tidak menjawabku, dan terus membawaku terbang hingga akhirnya kami
sampai di sebuah rumah cantik berwarna putih dengan ornamen-ornamen emas di
bagian luar maupun dalamnya. Ia menyuruhku masuk. Saat aku tengah mengagumi
bagian dalam rumah itu, Hinata masuk dalam sosok manusianya. Rambut panjangnya
yang indah nampak jauh lebih indah. Bagian pinggirnya di kepang ke belakang,
dan sisanya dibiarkan tergerai bebas, sedangkan poninya menggantung di dahinya.
Di kepalanya tergantung benda sejenis kalung tadi. Baru kuperhatikan, benda itu
berbentuk seperti bangun datar layang-layang, dan berhiaskan permata rubi di
bagian ujung atasnya.
Hinata mengenakan gaun panjang berwarna putih dengan sedikit aksen warna
merah muda pucat di bagian lengannya. Gaun itu menjuntai sampai ke lantai dan
sedikit mengekor. Aku sangat terpesona. Sesungguhnya siapa Hinata?
Ia sadar aku memandanginya, karena kepalanya sedikit menunduk dengan rona
di wajahnya. Kemudian aku berdeham, dan Hinata segera menyadari sesuatu. Ia
menarik tanganku ke sebuah ruangan di dekat situ, dan menutup pintunya.
Ruangan yang kami masuki ternyata adalah sebuah kamar. Jantungku sedikit
berdegup kencang saat menyadari aku berada di dalam kamar tidur bersama seorang
gadis. Dengan cepat aku menepis pemikiran itu dengan menggelengkan kepalaku
sekali.
"Apa?" tanyaku tanpa merubah ekspresi datar andalanku. Sebelum
menjawab, ia mengisyaratkan aku untuk duduk di salah satu sisi ranjang yang
lebih pendek, dan ia duduk di sisi ranjang di sebelahku, hingga kami tidak
duduk berhadapan.
"I-ini rumah Ibuku," ujar Hinata. Aku melihat gestur tubuhnya
yang menunjukkan ia sedang bersedih. Dengan reflek aku menyentuh tangan
kanannya dengan tangan kiriku dan menggenggamnya. Hinata sedikit terlonjak. Ia
menoleh ke arahku, dan aku membalas pandangannya tanpa berekspresi.
"Lanjutkan," ucapku setelah jeda beberapa detik.
"I-ibuku adalah 'seorang' Ratu Pegasus. Beliau adalah satu-satunya
penduduk ne-negeri ini yang mampu memanipulasi ruang dan waktu, da-dan hanya ia
yang bisa mengubah wujudnya menjadi manusia—dan kini keahliannya diturunkan
padaku," jelas Hinata panjang lebar. Aku terus menyimaknya. "Ia
menikahi seorang manusia dan lahirlah aku. Ka-karena takut te-terjadi sesuatu
padaku, beliau membawa aku kembali ke negeri ini dan meninggalkan Ayahku."
"Lalu?" tanyaku untuk memaksanya menceritakan semuanya.
"Karena Ibuku membuka pintu gerbang antara negeri ini dengan negeri
manusia, secara tak sengaja tiga tahun yang lalu ada seorang manusia datang ke
mari," jelas Hinata lagi, "Ia tinggal di sini sebagai seorang
laki-laki baik hati selama satu tahun hingga—"
Gadis Hantu itu menghentikan ceritanya, karena ia mulai terisak. Aku
melepaskan genggamanku, dan berjalan ke depannya, lalu berlutut di sana dan
merengkuhnya ke dalam pelukan. Ia terus terisak di dalam pelukanku.
"A-arigatou, Sasuke-san," kata Hinata sembari menarik diri dari
pelukanku, dan aku masih terus berada di posisiku. "Hingga dua tahun yang
lalu, pria itu membunuh Ibuku, dan mengambil alih kekuasaan. Ia membuat seluruh
makhluk di sini terikat dengannya, dan tidak boleh kembali ke dunia manusia
dengan cara menutup pintu gerbangnya. Sesungguhnya, yang terakhir tadi, saat
aku ke tokomu, itu menggunakan keahlian yang diturunkan Ibuku. Selain itu, ia
mengancam kami semua untuk terus memberikannya persembahan berupa coklat cair,
gula-gula, dan bunga melati."
'Ya, tadi ia ke mari. Tetapi hanya membeli coklat cair dan gula-gula.' Seketika,
perkataan Nenek Chiyo terngiang-ngiang di otakku, ditambah lagi bayang-bayang
Hinata yang terus menerus membawa bunga melati. Rupanya semua itu untuk makhluk
berengsek yang menyebabkan ini semua? Diam-diam aku merasa geram, karena orang
itu sudah merebut kebahagiaan Hinata.
"Konyol, ya?" tanya Hinata sembari tertawa kecil. Aku tersenyum
saat melihatnya tertawa. Sambil tertawa, ia melihatku tersenyum dan segera
menghentikan tawanya dengan wajah bersemu merah. Lalu ia melanjutkan dengan
tergagap, "I-ini ka-karena siang ini aku lupa wa-waktu di dunia manusia,
sehingga persembahannya te-terlambat."
Aku tertegun. Aku memandangnya dengan perasaan bersalah. Aku bergumam,
"Gomen na sai. Ini semua salahku."
Hinata terlonjak akan perkataanku. Mata lugunya menatapku dengan bingung,
lalu ia berkata pelan dengan tangan kanan menyentuh pipiku, "Sasuke-san.
A-aku tidak mengerti mengapa kau me-menyalahkan dirimu."
"Demi Tuhan jika aku tidak menahanmu di gudang, dan menghujanimu
dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh, ini semua tidak akan terjadi!"
timpalku sambil mati-matian menahan air mata. Pasti malu, 'kan jika seorang
laki-laki tampan sepertiku menangis di depan perempuan?
Gadis Hantu itu terdiam. Tangannya masih menempel di pipiku. Kurasa ia
tidak tahu bagaimana caranya membalas perkataanku, karena merasa kata-kataku
tadi benar.
Aku menarik tangannya dari pipiku, dan berdiri di depannya. Dengan sepenuh
hati aku mengumumkan, "Aku akan mempertaruhkan nyawaku di sini."
Hinata ikut berdiri di hadapanku. Dengan cekatan, ia melepaskan kalung yang
ternyata dipakainya. Liontin kalung itu berbentuk seperti telur dan berwarna
biru muda, dengan corak lengkungan-lengkungan di depannya. Ia menyerahkannya
padaku sembari berkata, "Pakailah."
"Ini apa?" tanyaku sembari memandangi batu berwarna biru yang
kini ada di tanganku itu.
"Batu Gelel. Kami biasa menyebutnya sebagai Batu Harapan. Berharaplah,
dan semua akan dikabulkannya," jelas Hinata. Ia mengambil lagi kalung itu
dan memasangkannya di leherku. Posisi kami seperti berpelukan saat ini,
sehingga membuat tubuhku menegang dan jantungku berdegup keras. Aku sangat
yakin ia juga merasakan hal yang sama, karena kedua pipinya memerah sempurna,
dan ia tampak enggan menatapku.
"Arigatou," kataku sambil terus menatap mata ungu pucatnya yang
lugu dan menawan. Ingin rasanya aku mengecup mata itu, dan mengatakan padanya
kalau aku menyukai warna matanya yang unik.
"Do-doita. Pria itu lawan yang sangat kuat, karena kini ia memiliki
rubah raksasa itu. Ia membebaskannya dari segel yang dibuat Ibuku untuk
mengurungnya di sebuah gua," kata Hinata untuk memperingatkanku.
Aku mengangguk mengerti. Sesaat setelah aku mengangguk, lengan putihnya
sudah melingkari leherku. Ia terisak di sana dan mengucapkan kata-kata
keberuntungan. Aku membalas pelukannya dengan melingkarkan lenganku di
pinggangnya yang ramping. Kusandarkan kepalaku pada kepalanya yang menguarkan
harum buah anggur. Aku berharap waktu 'kan berhenti, dan membiarkan momen ini
abadi.
Baru saja aku berharap demikian, setengah bagian kamar ini rubuh karena
ditimpa sesuatu yang besar. Aku melepaskan pelukan kami dan bersikap sebagai
tameng buat Hinata. Aku merentangkan tanganku sembari berdiri di depan Gadis
Hantu itu. Sekarang aku melihat penyebab hancurnya setengah bagian kamar itu.
Sebuah tangan—atau kaki?—yang sangat besar berwarna coklat kemerahan. Kuku-kuku
jarinya yang tajam membuatku bergidik ngeri. Detik berikutnya, kudengar suara
raungan keras yang mengerikan.
Tak lama, satu tangan-atau-kaki itu menyerang bagian lain dari kamar. Aku
meneriakkan kata 'mundur' pada Hinata, dan melihat sosok apa sebenarnya yang
memberikan kehancuran. Aku terlonjak, ketika sebagian kamar ini sekarang
berubah menjadi ruangan terbuka, aku melihat sosok itu. Sosok berkepala rubah
dengan mulut menganga sehingga menunjukkan kedua taringnya yang tajam dan
besar. Semakin lama sosoknya terlihat semakin jelas.
Dan aku bersumpah, ia memiliki sembilan ekor.
To be continued.
-Annonymous Hyuuga-
Copied from Facebook-SasuHina Fanfiction